Ngadmin

Kyai Said Aqil Siradj Dorong LDII Perkuat SDM Tangguh Hadapi Ketidakpastian Global

Jakarta (9/4). Ketua Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), KH Said Aqil Siradj mendorong LDII memperkuat dakwah berbasis tsaqafah guna menyiapkan generasi muda menghadapi dinamika geopolitik global yang kian kompleks. Hal tersebut ia sampaikan dalam Musyawarah Nasional (Munas) X DPP LDII di Grand Ballroom Minhajurrosyidin, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Ia menegaskan, penguatan tsaqafah menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas umat, baik secara kecerdasan akademik, maupun pembentukan kecakapan hidup, keterampilan, serta cara pandang yang matang, “Tsaqafah itu membentuk generasi yang berilmu, punya kecakapan, sekaligus memiliki cara pandang yang baik dalam menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.

Ia pun mendorong LDII memperkuat pembinaan generasi muda melalui pendidikan yang menyeluruh, mencakup aspek keilmuan, keterampilan, dan pembentukan karakter, agar mampu beradaptasi dengan perubahan sekaligus berkontribusi bagi masyarakat.

Dalam paparannya, Said Aqil juga menegaskan bahwa dakwah merupakan kewajiban seluruh umat Islam. Namun, dakwah harus dijalankan dengan pendekatan yang bijak (bil hikmah). Ia juga menyinggung kondisi geopolitik global, khususnya konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, situasi tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga stabilitas dan persatuan di Indonesia.

“Alhamdulillah Indonesia relatif stabil. Tidak seperti di Timur Tengah yang mudah terjadi konflik. Di sini, perbedaan antarormas tidak sampai pada perbedaan prinsip,” katanya.

Ia menilai, perbedaan yang ada di Indonesia merupakan hal yang wajar, selama tetap berada dalam bingkai persatuan. Karena itu, organisasi keagamaan seperti LDII memiliki peran penting dalam menjaga harmoni sosial sekaligus memperkuat kontribusi umat dalam kehidupan berbangsa.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPP LDII, Singgih Tri Sulistiyono menilai pembekalan tersebut menjadi dorongan penting bagi umat Islam untuk berperan lebih luas dalam pembangunan masyarakat.

Ia menyebut, penguatan *tsaqafah* sejalan dengan program LDII yang selama ini berfokus pada pendidikan, pembinaan karakter luhur, serta peningkatan kualitas sumberdaya manusia, “Yang didorong adalah bagaimana umat Islam bisa menjadi *leading* dalam pembangunan masyarakat, baik dari sisi moralitas, kesejahteraan, maupun menciptakan perdamaian,” ujarnya.

Menurutnya, dalam konteks era digital saat ini, tantangan yang dihadapi generasi muda semakin kompleks. Karena itu, selain memiliki pengetahuan, generasi muda juga dituntut memiliki empati sosial, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan menghadapi perubahan.

Lebih lanjut, Singgih menjelaskan bahwa program LDII tidak hanya berfokus pada aspek pendidikan, tetapi juga mencakup pemberdayaan ekonomi masyarakat serta penguatan penguasaan teknologi, “Kalau kita tertinggal dalam teknologi, tentu kita akan kalah. Karena itu, penguatan pendidikan, ekonomi, dan teknologi menjadi bagian penting dalam program LDII,” jelasnya.

Ia menambahkan, berbagai pembekalan dari tokoh nasional dalam Munas X LDII menjadi referensi penting dalam menyusun program strategis organisasi selama lima tahun ke depan.

Menteri Haji Ajak LDII Jadi Jembatan Kebijakan Pemerintah dengan Masyarakat

Jakarta (7/4). Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, KH Mochamad Irfan Yusuf mengajak LDII untuk menjadi jembatan antara kebijakan pemerintah dan masyarakat. Hal itu ia ungkapkan saat memberikan materi pada Munas X LDII, di Grand Ballroom Minhaajurrosyidiin, Ponpes Minhaajurrosyidiin, Jakarta, pada Selasa (7/4/2026).

“Saat ini, adalah momentum yang tepat untuk memperkuat peran bersama. Bukan hanya memperkuat internal organisasi, tetapi juga memperluas kontribusi. Tidak hanya membahas internal organisasi, tetapi juga membahas kondisi kebangsaan,” imbuh KH M. Irfan.

KH M. Irfan yang akrab disapa Gus Irfan tersebut menegaskan, membangun Indonesia adalah kerja kolektif. “Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Tidak ada satu pihak pun yang bisa berjalan sendiri. Ketika bisa berjalan bersama, maka tidak hanya kuat, tetapi juga akan dihormati dunia,” pungkasnya.

Lebih lanjut, ia menilai, tema Munas X LDII “Mengokohkan Peran LDII dalam Membangun Indonesia yang Berdaulat, Harmonis, dan Berkeadaban untuk Perdamaian Dunia”, sejalan dengan visi dan misi Presiden Prabowo.

“Presiden Prabowo menegaskan, Indonesia harus swasembada pangan, air, dan energi. Apapun yang terjadi di dunia luar, jika sudah swasembada pangan, air dan energi, maka tidak akan terpengaruh,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, dunia saat ini sedang menghadapi ketidakpastian global. “Maka, tema Munas X LDII ini sangat relevan. Mengingat kondisi geopolitik global saat ini, yang mengganggu rantai pasok energi dan pangan, serta stabilitas perdagangan nasional,” tutur Gus Irfan.

Sementara itu, terkait dengan pelaksanaan haji yang terdampak Perang Iran dengan Israel dan AS, ia mengatakan, pihaknya tetap berkomunikasi dengan Pemerintah Arab Saudi agar pelaksanaan haji tetap lancar. “Dan sampai saat ini, semua masih sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan,” jelasnya.

Gus Irfan mengungkapkan, dampak perang tersebut, mengakibatkan adanya penambahan biaya. “Misalnya tiket pesawat, penambahan biaya dapat mencapai Rp10 juta per jamaah,” imbuhnya.

Melihat kondisi tersebut, Ia mengatakan, Presiden Prabowo berpesan, apapun yang terjadi, pertimbangan utama berangkat atau tidak, adalah pertimbangan keamanan dan keselamatan jamaah haji Indonesia.

“Kedua, jika terjadi penambahan pembiayaan, jangan dibebankan pada jamaah haji. Kami juga mengadakan rakor terbatas dengan Menko Perekonomian dan sedang menghitung. Bagaimana mekanisme pembiayaan jika terjadi perubahan harga,” pungkas Gus Irfan.

Lebih lanjut ia mengatakan, situasi Timur Tengah, memberikan pembelajaran, membangun bangsa, tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. “Ketahanan nasional, akan kokoh, jika dibangun oleh seluruh elemen bangsa. Mulai dari pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat itu sendiri,” katanya.

Menurutnya, Indonesia memiliki keberagaman yang tinggi, dan semua itu membutuhkan perekat. “Yakni, nilai-nilai kebangsaan, moderasi beragama dan karakter masyarakat. Tanpa itu, bangsa Indonesia akan mudah terpecah dan tidak akan menjadi bangsa yang tangguh,” jelasnya.

Untuk mendukung hal tersebut, ia menilai, LDII dapat terus meningkatkan perannya. “Melalui dakwah yang menyejukkan, penguatan karakter, serta kontribusi dalam kehidupan sosial. Untuk menjaga keharmonisan dan ketahanan nasional,” tutup Gus Irfan.

Munas X LDII, Mendikdasmen Tekankan Pemerataan Pendidikan dan Penguatan Karakter Generasi Muda

Jakarta (9/4). Dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari kesenjangan pendidikan hingga krisis karakter generasi muda, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya pemerataan akses pendidikan dan penguatan nilai-nilai karakter sebagai fondasi masa depan bangsa. Pernyataan itu, ia sampaikan saat Musyawarah Nasional (Munas) X LDII, di Pondok Pesantren Minhajurosyidin, Jakarta Timur, pada Kamis (9/4/2026).

 

“Kami melihat, di antara masalah yang dihadapi, adalah kesenjangan pendidikan. Banyak warga Indonesia, yang belum memperoleh kesempatan pendidikan. Baik karena faktor ekonomi, geografi, fisik hingga keamanan,” ujar Abdul Mu’ti.

 

Untuk itu, ia menegaskan, pihaknya berkomitmen melaksanakan amanah konstitusi. “Agar seluruh anak Indonesia, memperoleh haknya sebagai warga negara. Implementasinya, kami mulai dengan memperbaiki sarana dan prasarana sekolah. Ada program revitalisasi satuan pendidikan. Secara bertahap, sekolah di Indonesia yang rusak, akan terus diperbaiki,” katanya.

 

Kedua, pihaknya melaksanakan program digitalisasi. “Melalui pembagian interactive flat panel (IFP). Yang sekarang, telah terdistribusi sebanyak 288 ribu paket. Kami targetkan, pada 2029, semua kelas dan sekolah di Indonesia, telah memiliki IFP. Sehingga proses pembelajaran akan semakin menarik,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia berkomitmen memperbaiki karakter generasi muda. “Salah satu program penguatan pendidikan karakter yang kami laksanakan, adalah “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Mulai dari pembiasaan bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat hingga tidur cepat,” kata Abdul Mu’ti.

 

Ia menjelaskan, kebiasaan yang buruk, akan berpengaruh pada mental, spiritual, intelektual dan kehidupan sosial. “Generasi masa kini cenderung malas gerak (mager). Bahkan, cenderung beragama secara longgar, di mana, angka ateisme cenderung meningkat,” pungkas Abdul Mu’ti.

 

 

Didampingi Sekum DPP LDII Periode 2021 – 2026 Dody T Wijaya, Mendikdasmen Abdul Mu’ti kunjungi salah satu sekolah dibawah naungan LDII di Ponpes Minhajurrosyidin. (Dok Lines)

Persoalan lainnya, ia menemukan gejala generasi cemas. “Generasi yang fisiknya terlihat sehat, namun mudah layu. Hal itu, disebabkan berbagai tekanan dalam kehidupan,” tuturnya.

 

Ia menilai, hal tersebut karena merasa pesimis terhadap masa depan. “Mereka cenderung jauh dari kehidupan beragama. Bahkan, banyak anak muda, mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri,” kata Abdul Mu’ti.

 

Salah satu penyebabnya, ia menyoroti keluarga yang tidak lagi mampu menjadi institusi pendamping anak untuk mendapatkan ketenangan spiritual. “Banyak pula dari mereka, berasal dari keluarga broken home. Ini persoalan yang tidak bisa dianggap sederhana,” tegas Abdul Mu’ti.

 

Abdul Mu’ti juga melihat, anak muda mengalami kecemasan akibat berlebihan dalam menggunakan media sosial. “Terjadi perundungan yang luar biasa dari media sosial. Untuk itu, kegiatan belajar dan mengajar di masa kini, kami fokuskan pada pemaknaan yang mendalam. Yang dipelajari tidak usah terlalu banyak. Kami mendorong pembelajaran yang memuliakan guru dan murid,” imbuhnya.

 

Caranya, ia menjelaskan, kurikulum dikurangi kontennya. “Dan kurikulum yang tidak tertulis, diperkuat. Melalui lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Peserta didik dibiasakan dengan hal-hal yang baik. Melalui pembiasaan nilai-nilai akhlakul karimah, baik di rumah, sekolah hingga masyarakat,” kata Abdul Mu’ti.

 

Lebih lanjut, untuk menghadapi berbagai persoalan dan tantangan tersebut, ia menegaskan, Kemendikdasmen tidak bisa bekerja sendiri. “Penguatan karakter dan penanaman rasa cinta tanah air, harus dilaksanakan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Bahkan, dibutuhkan juga dukungan dari ormas keagamaan,” tutupnya.

​Munas X LDII Resmi Tetapkan Dodi Taufik Wijaya sebagai Ketua Umum Masa Bakti 2026-2031

Musyawarah Nasional (Munas) X LDII yang dilaksanakan di Grand Ballroom Minhajurrosyidin, Jakarta Timur, pada 7-9 April 2026 sukses digelar dengan suasana yang penuh kekeluargaan dan kesejukan. Perhelatan tertinggi organisasi ini tidak hanya menjadi momentum regenerasi kepemimpinan, tetapi juga mempertegas komitmen LDII dalam memberikan kontribusi berkelanjutan bagi bangsa dan negara.

Hasil munas X LDII menetapkan Dodi Taufik wijaya sebagai ketua umum LDII masa bakti 2026-2031. Kepemimpinan yang terpilih dalam Munas X ini dipandang sebagai kombinasi antara pengalaman dan inovasi. Dengan semangat “LDII untuk Bangsa”, kepengurusan baru diharapkan mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks, mulai dari transformasi digital hingga penguatan ekonomi syariah di akar rumput.

​Keberhasilan Munas X ini disambut baik oleh jajaran pengurus di tingkat wilayah. Ketua DPW LDII Sulawesi Tengah, Zulkifli Lasamai, memberikan apresiasi tinggi atas jalannya musyawarah yang dinilai sangat demokratis namun tetap mengedepankan adab dan persatuan.

​”Pelaksanaan Munas X ini mencerminkan kematangan organisasi kita dalam berdemokrasi. Suasana sejuk yang tercipta menunjukkan bahwa kita mengutamakan kepentingan umat di atas segalanya. Kami di daerah siap mengawal hasil keputusan Munas dan membawa semangat baru ini untuk memperkuat kontribusi LDII di Sulawesi Tengah,” ujar Zulkifli Lasamai.

​Dia juga menambahkan bahwa, estafet kepemimpinan ini, harus menjadi pemicu bagi seluruh kader untuk bekerja lebih cerdas dan tulus dalam memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

” Semoga dengan kepemimpinan yang baru ini mampu mengibarkan panji-panji organisasi lebih tinggi, menjadi inspirasi bagi seluruh kader organisasi untuk terus memberi manfaat dan bekerja dengan tulus untuk masyarakat luas ” Tambahnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, bahwa kehadiran para tokoh tokoh nasional dalam kegiatan Munas tersebut menjadi spirit tersendiri bagi para pengurus LDII yang ada di daerah-daerah, karena materi pembekalan yang disampaikan baik terkait kebudayaan, dinamika global, pendidikan dan ketahanan pangan, akan menjadi bekal yang sangat bermanfaat dalam menentukan arah program program organisasi kedepannya.

Zulkifli juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang tulus kepada Chriswanto Santoso atas pengabdian dan kepemimpinannya selama periode 2021–2026. kepemimpinan yang dijalankan telah membawa banyak kemajuan bagi organisasi, termasuk dalam memperkuat pembinaan umat dan peningkatan kualitas generasi muda.

Munas X LDII Bahas Penguatan Kebangsaan Serta Respons atas Krisis Global

Jakarta (6/3). Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII) akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) X pada 7–9 April 2026 di Grand Ballroom Minhajurrosyidin, Jakarta. Agenda lima tahunan ini tidak hanya menjadi forum untuk menentukan kepengurusan baru, tetapi juga menyusun program kerja strategis organisasi ke depan.

 

Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, menegaskan bahwa Munas X menjadi momentum penting untuk memperkuat peran LDII dalam menjawab tantangan bangsa, baik di tingkat nasional maupun global, “Munas X ini bukan sekadar agenda organisasi, tetapi juga forum strategis untuk merumuskan arah kebijakan dan program kerja LDII ke depan, termasuk dalam menghadapi berbagai dinamika global yang berdampak pada Indonesia,” ujarnya.

 

Menurut KH Chriswanto, salah satu isu penting yang menjadi perhatian dalam Munas X adalah perkembangan krisis di kawasan Timur Tengah yang berdampak luas terhadap stabilitas dunia. Krisis tersebut dinilai berpengaruh terhadap lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok global, hingga potensi resesi ekonomi di berbagai negara, “Krisis di Timur Tengah tidak bisa dipandang sebagai isu regional semata. Dampaknya sangat luas, mulai dari krisis energi hingga tekanan ekonomi global yang berpotensi memicu resesi,” jelasnya.

 

Ia menambahkan, apabila kondisi tersebut tidak diantisipasi dengan baik, maka bukan tidak mungkin akan berdampak pada krisis sosial, termasuk meningkatnya angka pengangguran, kemiskinan, serta potensi konflik sosial di berbagai negara, termasuk Indonesia.

 

“Oleh karena itu, Munas LDII juga akan membahas berbagai terobosan, usulan solusi dan kontribusi nyata yang bisa diberikan organisasi dalam menjaga ketahanan sosial masyarakat, memperkuat nilai-nilai kebangsaan, serta mendorong kemandirian ekonomi umat,” tegasnya.

 

Selain isu global, Munas X juga akan menekankan pentingnya sinergi antara LDII dengan pemerintah dan seluruh elemen bangsa dalam menjaga stabilitas nasional, terutama di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks. Untuk itu, DPP LDII mengundang pejabat tinggi pemerintah untuk memberikan pembekalan, agar kepengurusan DPP LDII kian sigap mengimplementasikan program kerja untuk mendukung program pemerintah.

 

KH Chriswanto berharap, melalui Munas X, LDII dapat melahirkan kepengurusan yang solid dan program kerja yang adaptif, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa, “LDII berkomitmen untuk terus menjadi bagian dari solusi, baik dalam menghadapi tantangan nasional maupun global, demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera, harmonis, dan berdaya saing,” pungkasnya.

 

Menurut Ketua DPP LDII Rulli Kuswahyudi, selaku Ketua Panitia Pelaksana Munas X LDII, acara akan dihadiri 800 peserta yang merupakan perwakilan dari kepengurusan tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, para ulama, dan pimpinan pondok pesantren di bawah naungan LDII. “Acara ini juga dilengkapi Gen Fest, atau Festival Generus yang merupakan etalase kemandirian generasi muda warga LDII,” papar Rulli.

 

Gen Fest dihadiri 80 stan yang merupakan perwakilan sekolah, pondok pesantren, UMKM, travel umroh dan haji, hingga bisnis kuliner. Acara yang dikelola generasi muda LDII dan LDII News Network (LINES) itu, juga menjadi wahana edukasi dengan berbagai talkshow mengenai berbagai usaha di bidang industri kreatif. “Gen Fest yang merupakan kegiatan pendukung Munas X LDII ini juga diisi Festival Seni Pencak Silat bekerja sama dengan Perguruan Pencak Silat Nasional (Persinas) ASAD. Hal ini sebagai salah satu upaya melestarikan budaya bangsa, mempererat tali silaturahmi, serta membina karakter generasi muda,” ujar Rulli.