Ngadmin

Renungan Panjang dalam Satu Kata, ibu..

“Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia….. <3 “
Itu lagu yang sering kita nyanyikan saat kita di taman kanak-kanak dulu, kadang, tanpa memahami maknanya kita hanya sekedar bernyanyi mendendangkannya.      Pernah nonton sebuah film ringan korea namun menguras emosi, “jibeuro” (a.k.a The Way Home)? Film itu bercerita tentang seorang anak yang oleh ibunya dititipkan sementara waktu kepada neneknya yang tinggal seorang diri di sebuah desa yang hampir tak terjamah, di sebuah bukit dekat pemberhentian bus terakhir. Sebuah kehidupan yang jauh dari sentuhan modernisasi dan dipenuhi kesederhanaan yang teramat sangat. Setelah menonton film itu, ada beberapa versi cinta yang kudapati. Cinta seorang ibu kepada anak, cinta anak kepada ibu, cinta seorang cucu kepada nenek, sebaliknya cinta sang nenek kepada sang cucu.
Renungan Panjang dalam Satu Kata, Ibu. .(image : bukankerananama.blogspot)

Ada pepatah, “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalah”. Betapa seorang ibu menyayangi anaknya, tanpa syarat, tanpa alasan,… nothing but love, just love. Seberapapun memikirkan betapa sayangnya seorang anak kepada ibunya, tidak akan membandingi kasih ibu kepadanya. Ibu akan rela mengorbankan apapun demi anaknya, meski kadang pemikiran sang ibu tidak dipahami si anak dengan baik. Tetapi pada intinya, tak ada orang tua yang tidak ingin melihat anaknya bahagia. Klise memang, tapi itulah kenyataanya. Kadang seorang anak akan merasa terintimidasi dengan kasih sayang itu. Mungkin karena sikap dan cara yang tidak sejalan dengan pemikiran sang anak sehingga terkadang membuatnya merasa  ditekan, dibatasi, dilarang, dan sebagainya. Pada akhirnya nanti anaklah yang malah pergi meninggalkan orang tuanya, bekerja, menikah, dan mungkin tinggal di tempat yang jauh. Tiada balasan yang setimpal atas tetesan darah dan keringat dari seorang ibu selain tersenyum mengetahui bahwa anaknya bahagia. Akan ada saat dimana ibu akan memukul kita dengan keras, membentak kita, anaknya. Sesungguhnya hatinya menangis melakukan itu. Kemarahan yang terlampiaskan kepada anaknya sejatinya mungkin ditujukan kepada dirinya sendiri. Hanya satu, ibu tidak ingin kita terluka, tidak seujung jaripun. Dalam setiap doa dan bisikannya di malam hari, saat semua telah terlelap, dalam sendu ibu berdoa, “Semoga anakku baik-baik saja, jaga dia, sayangi dia, jangan biarkan hal buruk terjadi padanya, jadikan dia anak yang baik, menjadi orang yang sukses….” Bahkan kesehatan dan umur panjang yang ibu minta kepada Tuhan, adalah hanya untuk menjaga dan melihat anaknya bahagia.
Berada di tempat yang jauh dari orang tua… menyisakan ruang rindu yang begitu luas, sepi dan kosong untuk ibu. Bagaimana keadaannya sekarang? Betapa dia kehilangan. Sekedar ingin mencium bau anaknya, ibu terlelap dalam letih di kamar anaknya, memeluk kemeja anaknya yang belum sempat tercuci semenjak kunjungannya yang terakhir dari rantau. Memasak menu kesukaan anaknya, atau sekedar membeli buah yang selalu diminta anaknya setiap ibu beranjak ke pasar. Semakin dewasa seseorang, akan semakin senjang dia kepada ibunya, semasa ibu hamil tak terpisahkan, kemanapun ibu pergi kita ikut. Setelah ibu melahirkan kita di dunia, mengenalkan kita pada cahaya matahari yang menyeruak dari sela jendela, akan ada saatnya sesekali kita terpisah dari dekapan sang ibu, Akan menurun intensitas pertemuan kita dengannya. Demikian pula saat kita mulai bisa merangkak dan berjalan, bermain bersama teman sebaya, tergelak dalam bahasa sesama anak-anak, ibu di rumah dengan cemas menanti kita, berharap kita tak terluka, terjatuh atau menangis. Semakin dewasa, kita masuk sekolah. Awalnya ibu akan senantiasa mengantar dan menunggui kita di sekolah. Masih dengan rindu yang sama, tak berubah sedikitpun, tujuh jam ibu menanti kita pulang sekolah, sekalipun sibuk dengan pekerjaan, ibu akan selalu merindukan tangan kecil yang baru saja dia lepaskan dalam seragam sekolah. Semakin dewasa, kita akan lebih suka bermain bersama teman sebaya dengan tidak menyadari rindu sang ibu. Begitu rindunya ibu, maka dia bergegas ke pasar, kemudian membuat makanan kesukaan kita, menyajikan dan menunggu pulang dari sekolah. Sampai masakan ibu dingin, ternyata anaknya belum juga pulang, “Mungkin dia bermain dengan temannya, semoga dia baik-baik saja”.
Semakin dewasa semakin ibu akan merindukan anaknya. Tangan mungil yang selalju menggenggam jemari hangatnya seolah tak mau lepas, tangisan yang setiap malam membangunkan lelapnya, tangan dan kaki yang hampir setiap hari berdarah sepulang bermain, baju kotor berlumpur yang disembunyikan di tumpukan cucian. Setelah dewasa, tak jarang kita mengabaikan panggilan telepon ibu, entah sibuk belajar, kerja atau sibuk bermain bersama teman.
Selayaknya sebagai seorang anak berusaha membalas kasih ibu, takkan setimpal takkan setara.  Berusahalah selalu membuat ibu tersenyum, jangan berpikir untuk membalas cintanya, karena cinta ibu tak terbalas. Berbaiklah kepada ibu selagi Tuhan masih memberi kesempatan untuk itu. “Bu, aku baik-baik saja”, bahkan sekedar bercerita tentang apa saja ibu pasti senang mendengarnya. Pada kesalahan yang kita buatpun bahkan sebelum kita memintanya, ibu dengan tulus memaafkan. Ibu tak mengenal kata maaf ataupun terimakasih, ibu hanya ingin anaknya tersenyum, bahagia, baik-baik saja.

“Robbighfirlii waliwaalidayya, warhamhumaa kamaa robbayanii soghirooo” hanya Tuhan yang bisa membalas cintanya.

Pengukuhan Pengurus DPD LDII Kabupaten Sigi

DPW LDII Sulawesi Tengah – Palu, Minggu (17/02/2013) bertempat di Majelis Taklim Miftakhul Huda Kelurahan Petobo Kecamatan Palu Selatan Kota Palu, diadakan acara pengukuhan kepengurusan baru di jajaran DPD LDII Kabupaten Sigi masa bakti 2013-2018 yang diketuai oleh Nurohmat,S.Hut.

pengukuhan pengurus dpd kabupaten sigi
Pengukuhan Pengurus DPD LDII Kabupaten Sigi – LDII Sulteng

Acara tersebut dipimpin langsung oleh Agus Salim St.Marhum,S.Pd selaku Ketua DPW LDII Provinsi Sulawesi Tengah.

Selain pengurus DPW LDII Provinsi Sulawesi Tengah, hadir pula Ketua DPD LDII Kabupaten Donggala yang sebelumnya juga memimpin aktivitas warga LDII di Kabupaten Sigi sampai dengan terbentuknya kepengurusan resmi dan terpisah dari organisasi induknya, yaitu DPD LDII Kabupaten Donggala.

ketua dpw ldii sulawesi tengah
Sambutan Ketua DPW LDII Sulawesi Tengah

Dalam sambutannya Ketua DPW LDII Propinsi Sulawesi Tengah menyampaikan bahwa dalam menjalankan roda organisasi seluruh pengurus DPD LDII Kabupaten Sigi diharapkan bisa bekerjasama dengan baik, rukun, kompak serta bisa jujur dan amanah. Selain itu, sebagai ormas Islam, seluruh pengurus sudah semestinya bekerja sama dengan berbagai pihak di luar LDII demi tercapainya kebaikan bersama.

Pembentukan dan pengukuhan DPD LDII Kabupaten Sigi dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja organisasi dengan dimekarkannya Kabupaten Sigi dari kabupaten lama yaitu Kabupaten Donggala.

Kerja Bakti Warga LDII Kelurahan Petobo

LDII Kota Palu – Sabtu (16/2/2013), PAC LDII Kelurahan Petobo melakukan kerja bakti membersihkan halaman masjid Miftakhul  Huda yang terletak di Jalan Dewi Sartika IV. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mempersiapkan turnamen futsal generasi penerus antar PAC LDII se Kota Palu.
Berikut foto Kegiatan kerja bakti warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia Kelurahan Petobo :

PENGENALAN PPM KEPADA GENERASI MUDA DPD LDII KOTA PALU

Pengenalan PPM kepada Generasi Muda DPD LDII Kota Palu – Palu, senin (28/01/2013) Biro Organisasi Kepemudaan dan Kaderisasi DPD LDII Kota Palu mengadakan presentasi pengenalan Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) LDII yang berada di pusat – pusat pendidikan yang ada di Indonesia.
Oleh karena semakin dekatnya  ujian kelulusan terutama tingkat SLTA dan beberapa generasi penerus Lembaga Dakwah Islam Indonesia Kota Palu berkeinginan melanjutkan pendidikannya  di Perguruan Tinggi di luar Kota Palu, maka kegiatan ini dilaksanakan untuk menambah informasi sebagai alternatif tujuan melanjutkan pendidikan dimaksud.
Presentasi Pengenalan Pondok Pesantren Mahasiswa – LDII SULTENG

Acara yang diadakan di Majelis Taklim Shirotol Mustaqim Palu ini dibawakan oleh Fraga Luzmi Fahmi. Dalam pemaparannya Fraga yang saat ini sedang menempuh studinya di Universitas Gajah Mada Yogyakarta Jurusan Ilmu Geologi itu menjelaskan pentingya Pondok Pesantren Mahasiswa(PPM) bagi para mahasiswa.

“Mahasiswa – mahasiswa bisa belajar ‘lebih’, bukan hanya ilmu dunianya, tapi juga memahamkan ilmu keagamaan,”Ungkapnya.
Lebih lanjut Pemenang Geoscience Student Competition, Paper Contest  ini menekankan dengan adanya PPM, kita tidak hanya sekedar ngekos akan tetapi juga diberikan program – program yang bisa melahirkan mubaligh – mubalighot yang bergelar sarjana. Sehingga akan menghasilkan generasi yang “Faham Agama, Berakhlak Baik, dan Mandiri”.
Fraga Luzmi Fahmi – LDII SulTeng
Di penghujung pertemuan Fraga mengungkapkan kesyukurannya bisa berada di PPM selama menjalani masa belajarnya. Tidak hanya kuliah tapi bisa mondok.
“harapannya, bisa menjadi generasi yang unggul, memiliki nilai plus yaitu memiliki keutamaan dunia sebagai seorang sarjana dan memiliki keutamaan di akhirat sebagai seorang ulama’ atau mubaligh”katanya.

GALERI | PEMBINAAN GENERUS DI MALAM TAHUN BARU