Ngadmin

AUDIENSI KE KANTOR KESBANG LINMAS PROV. SULTENG

LDII Sulteng – Rabu, 20 Pebruari 2013, Ketua DPW LDII Sulawesi Tengah, Agussalim Sutan Marhum, S.Pd, didampingi Chairil Anwar Syam dan Anas Y. Karnain, SE (Wakil Ketua), Ir. H. Fatoni, M.Si (Sekretaris), H. M. Taufik Ridho (Bendahara), Drs. Teguh Priyono Umar (Biro OKK) dan Darwis J. Bandu, M.Pd melakukan audiensi ke Kantor Kesbang Linmas Provinsi Sulawesi Tengah yang diterima langsung oleh Kepala Badan Kesbang Linmas Sulteng, Drs. H. Sutrisno Sembiring, M.M.
LDII Palu
Audiensi Pengurus DPW LDII Sulteng ke Kesbanglinmas
Dalam kesempatan tersebut, Ketua DPW LDII menyampaikan Surat Terdaftar Keanggotaan LDII sebagai Ormas Keagamaan (DPP LDII) dari Dirjen Kesbangpol Kemendagri. Selain itu Ketua DPW LDII juga berkonsultasi memohon bimbingan, petunjuk, dan arahan dalam melaksanakan kegiatan keorganisasian di wilayah Sulteng.
Kepala Badan Kesbang Linmas Sulteng, Drs. H. Sutrisno Sembiring, M.M. menjelaskan pentingnya silaturahmi diantara sesama ormas Islam sekaligus mengesampingkan perbedaan yang ada serta keharusan orang Islam untuk meramaikan masjid.
Selanjutnya, silaturrahim di Kantor Kesbang Linmas Prov. Sulteng ini juga mendiskusikan beberapa permasalahan umat islam terutama yang terjadi di wilayah Sulawesi Tengah. (DJ)

PEMBUKAAN KOMPETISI FUTSAL U-14 LDII KOTA PALU

LDII Palu – Sabtu (16/03/2013), di halaman Masjid Miftahul Huda Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan Kota Palu dilaksanakan pembukaan Kompetisi Futsal U-14 DPD LDII Kota Palu.
Kegiatan ini sudah menjadi agenda tahunan DPD LDII Kota Palu yang memperebutkan piala bergilir setelah tahun sebelumnya dimenangkan oleh PAC LDII Kelurahan Tatura Selatan.
Dalam laporannya, ketua panitia yang dijabat Ilman Pradhana menjelaskan bahwa Kompetisi futsal U-14 tahun 2013 ini adalah yang kedua dan diikuti oleh 9 Tim perwakilan dari PAC yang ada di lingkup DPD LDII Kota Palu.
Kompetisi Futsal DPD LDII Palu
Kompetisi Futsal DPD LDII Palu (Dok:LDII Sulteng)

Dihadapan peserta kompetisi futsal U-14 LDII Kota Palu. Bapak Ir.H.Wimbo Hartono selaku Pembina DPD LDII Kota Palu menekankan bahwa tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk mewujudkan kerukunan dan kekompakan diantara generasi muda LDII Kota Palu. Maka diharapkan agar para peserta bisa bermain dengan baik dan menjunjung sportivitas.

LDII Sigi
Sambutan Pembina DPD LDII Kota Palu (dok:DPW LDII Sulteng)
Sebelum penyerahan Piala dari juara bertahan kepada panitia. Bapak Ir.H.Wimbo Hartono membuka Kompetisi futsal U-14 secara resmi dengan melakukan penendangan bola pertama.
LDII Donggala
Penyerahan Piala Bergilir ke Ketua Panitia (Dok:LDII Sulteng)

Kompetisi yang dikemas oleh Remaja Masjid LDII Kota Palu ini dilaksanakan di lapangan yang terletak di halaman Masjid Miftahul Huda. Kompetisi yang sekaligus menjadi hiburan ini memakan waktu kurang lebih satu setengah bulan. Oleh karena padatnya agenda kegiatan bagi Generasi Muda LDII, maka pertandingannya hanya bisa dilaksanakan setiap Sabtu dan Minggu seusai sholat Ashar.

Semoga dengan diadakannya kompetisi futsal ini bisa melahirkan generasi yang sehat, sportif, dan bersemangat demi dakwah Islam. Amiiin. (zz)

Mengukur (Kembali) Arah Kiblat

LDII SULTENGMendengar kata kiblat, memori kita akan segera mengarah ke satu titik : sebuah arah bagi umat Islam untuk menghadapkan wajahnya saat melaksanakan sholat. Dulu, ketika masih di sekolah dasar, beberapa dari kita menjawab ‘barat’ bila ada pertanyaan kemana umat Islam menghadap ketika sembahyang. Oleh kebaikan hati guru agama kita waktu itu, jawaban tersebut dibenarkan lantas diikuti pembetulannya, kiblat.

Dulu sekali, kiblat umat Islam adalah Masjidil Aqso di Palestina. Kemudian, dalam hati, Rasululullah SAW berkeinginan agar kiblatnya dipindahkan ke Baitullah, Ka’bah. Saat itu Rasul sering memandang langit sambil mengangankan keinginannya. Demikian berkali-kali hingga akhirnya dikabulkanlah pemindahan kiblat ke Masjidil Haram di Mekah. Hal ini ‘diabsahkan’ dengan turunnya Firman Alloh dalam Surat Al Baqarah ayat 142-144.


Masyarakat Islam kala itu, demi mendengar arah kiblat sudah berpindah, segera saja menyesuaikan diri kearah baru ini. Demikian juga umat Islam di kawasan sekitarnya.


Seiring bertambahnya waktu, Islam pun menyebar ke berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia. Arah kita agar tepat menghadap Baitul Haram saat itu hingga beratus-ratus tahun kemudian adalah : ke barat dan sedikit serong ke kanan. Ketika kita mulai mengikuti sholat di masjidpun hampir tidak pernah ada yang mempertanyakan hal ini, benar atau tidak, dan tepat atau kurang sedikit. Meskipun demikian, dengan sistem dan peralatan navigasi yang sangat terbatas, ternyata pendahulu kita sudah sangat baik menetapkan kemana arah kiblat yang semestinya. Sungguh suatu pengetahuan dan pemahaman  yang menakjubkan. Mari kita buktikan.


Pendahulu kita tampaknya lebih banyak memanfaatkan ilmu astronomi dan semuanya dihitung manual. Sekarang, kita dapat mengukur arah kiblat itu hampir tanpa bekal ilmu itu sedikitpun. Bagaimana bisa? Jawabannya ada di Google Earth. Dengan bantuannya kita bisa mengetahui arah kiblat (dan arah apapun) dengan tepat dan nyaris tanpa kesulitan.


Contoh pertama, dari atas Masjid Agung Darussalam di Palu kita tarik garis lurus ke Baitullah. Di layar, Ruler Google Earth akan menunjukkan derajat (degrees)nya sebesar 291,85. Itu berarti, dari arah barat lurus kita harus serong kanan sebesar 21,85 derajat.

Arah Kiblat
Ilustrasi Mengukur Arah Kiblat
Dengan cara yang sama, akan kita temukan derajat arah kiblat beberapa kota lain di Sulawesi Tengah sebagai berikut :
  1. Poso             : 291,85
  2. Tolitoli             : 291,52
  3. Ampana         : 291,75
  4. Luwuk             : 291,64
  5. Morowali         : 291,90
  6. Banggai Kepulauan     : 291,68

Informasi yang disajikan di atas hanya perhitungan menggunakan teknologi googleearth dan bisa saja subyektif tergantung ketelitian operatornya. Insya Allah, data yang lebih sahih dapat diperoleh di kantor kementerian agama terdekat. Wallahu a’lam bisshawab. (ay)

Antara Sekolah dan Mengaji

“Aduh, Mbak. Liburkan saja mengajinya. Nanti habis isya juga  ada ngaji lagi. Kapan kita belajarnya ? ”
“Aih, habis maghrib ngaji, habis isya ngaji, besoknya ngaji lagi. Bagaimana mau belajar ini, Padahal besok saya ada ujian.”
“Mbak, ngajinya pulang  cepat, ya. Saya capek, tadi pulang sekolah  jam 4 sore.”
“Uh, banyak sekali PR di sekolah tadi. Kapan mau dikerjakan ini, nanti malam ada ngaji juga.”
generus ldii palu
Membaca Al-Qur’an – Pengajian Caberawit (dok:LDII Sulteng)
Keluhan di atas hanyalah sedikit dari keluhan-keluhan para remaja dan sedikit mahasiswa. Mereka kebingungan membagi waktu antara mengaji dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Bahkan terkadang, keluhan itu terdengar agak keras pada para guru mengajinya. Mereka merasa frustasi dengan beban pelajaran dan tugas sekolah namun tak bisa berbuat apa-apa karena orang tua tetap memaksa mengaji.
Apalagi kalau melihat lingkungan pergaulan sehari-hari di sekolah yang mana semua teman hanya memikirkan nilai dan ujian. Pulang sekolah bisa langsung istirahat dan malamnya belajar. Tak perlu harus duduk berlama-lama mencatat dan mendengarkan materi pengajian saat badan sedang lelah dan kelopak mata menggelayut.
Kalau masalah seperti di atas tidak dijembatani, bisa jadi, kegiatan menuntut ilmu agama itu dijadikan musuh, momok, atau lebih bombastis : bencana. Bahkan dengan alasan-alasan yang belum teruji, mengaji dijadikan kambing hitam yang menghalangi prestasi belajar di sekolah atau kampus. Benarkah?
Kecenderungannya, banyak mengaji itu merupakan sebuah keuntungan tersendiri. Sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh pelajar-pelajar yang lain. Pertama, pasti akan menambah ilmu dan kefahaman seseorang. Seharusnya seorang pelajar merasa bangga karena selain mencari ilmu duniawi juga diberikan keutamaan bisa menuntut ilmu agama. Suatu kesempatan yang tidak dimiliki banyak orang. Bahkan, bisa dijadikan andalan untuk ‘memaksa’ Alloh membantu keberhasilan sekolah. Bagaimana caranya ?
Pertama, ingat dan ingatlah selalu sebuah dalil firman Allah Surat Muhammad Ayat 7 :
Artinya : Wahai orang – orang yang beriman, Jika kalian menolong Alloh, maka Alloh akan menolong pada kalian, dan Allah akan menetapkan pada beberapa telapak kaki kalian (menetapkan iman) “
Menolong Alloh di atas berarti menolong kelancaran agama Alloh, termasuk melestarikan ilmu agama yang diwahyukanNya . Maksudnya sudah jelas, kalau kita menolong agama Alloh dengan cara melancarkannya, maka Alloh juga akan menolong perkara kita. Itu janji Alloh kepada siapapun tanpa terkecuali. Nah, apakah mengaji itu termasuk dalam kategori menolong agama Alloh ? Sudah jelas, karena mengaji itu adalah cara melestarikan ilmu agama.
Karena itu, jadikanlah dalil diatas sebagai ‘senjata’ untuk kita. Caranya ? Waktunya ngaji ya ngaji, jalani dengan ikhlas dan semangat. Waktunya belajar ya belajar. Plus, setiap kali berdoa, selipkan pula tagihan kita pada Alloh : “ Ya Alloh, saya mempersungguh mengaji dan beribadah meskipun dalam keadaan lelah. Karena itu, tolong bantulah saya dalam belajar.”
pengajian caberawit
Semangat Mengaji Caberawit (dok:LDII Sulteng)
Kalau niat kita sudah benar, doa kita sudah sungguh-sungguh, usaha juga sudah maksimal, TIDAK ADA ALASAN bagi Alloh untuk tidak membantu kita. Ingatlah rumus kesuksesan :
A + B + C + D :
A : Alat-Ilmu, B : Berusaha, C : Cita-cita, D : Do’a
Memposisikan kegiatan mengaji sebagai penghambat sebenarnya tidak memadai dijadikan alasan. Jika mendatangi forum pengajian dengan perasaan marah, tidak ridho, maka tidak ada yang akan kita peroleh. Nothing. Sudah jelas capeknya, ngantuk, makan waktu, tetapi ilmu yang mestinya didapat malah hilang ditendang setan yang mengusik kalbu. Selain itu tugas sekolah sudah jelas tidak selesai. Yang ada tinggal hati dongkol membara dikipasi iblis. Sia-sia, kan?
Selain itu, belum pernah terdengar seorang pelajar jeblok nilai sekolahnya karena dia menertibkan ngajinya. Tidak ada bukti pula bahwa dengan tidak mengikuti ngaji dan memilih belajar di rumah, maka nilai akan semakin bagus. Yang sering terdengar adalah seorang pelajar yang pintar mengajinya juga pintar sekolahnya. Saya sendiri sudah sering membuktikan hal ini, ketika saya menjadikan kuliah, tugas, dan ujian  sebagai alasan untuk tidak memenuhi kewajiban saya, nilai saya bukannya baik malah tambah jeblok. Namun, ketika saya mencoba memenuhi semua tugas dan kewajiban menuntut ilmu agama itu, IP saya justru naik drastis ke angka yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Tidak sedikit bukti lain yang menunjukkan hal serupa. Beberapa tahun lalu, sebuah sekolah menengah negeri di Padang, Sumatera Barat, mempublikasikan bahwa di sekolah mereka terdapat kegiatan tahfidz Al Qur’an. Ternyata, siswa-siswa yang berhasil baik dalam kegiatan ini juga mempunyai prestasi yang membanggakan dalam bidang akademis. Dalam sejarah kedokteran tercantum nama Ibnu Sina yang di Eropa dikenal dengan nama Avicena, ulama besar sekaligus dokter. Ada lagi Ibnu Rusdi yang di dunia barat dikenal dengan Averos, dan daftar panjang lainnya.

Belum percaya ? Buktikanlah sendiri. Sehingga kita tidak lagi menjadikan kegiatan mengaji dan sekolah sebagai versus, sebagai lawan, bidang hitam putih yang saling bertolak belakang, melainkan sebagai paduan warna bagai goresan pelangi yang indah.(nifa)

PERESMIAN MASJID BAITUL AKBAR

LDII KOTA PALU – Minggu, 17 Februari 2013 Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Palu mengadakan peresmian penggunaan Masjid Baitul Akbar. Peresmian yang dilaksanakan oleh Wakil Wali Kota Palu, H. Mulhanan Tombolotutu, S.H. memang telah dinantikan oleh warga LDII. Dalam sambutannya beliau menyatakan bahwa Kota Palu saat ini mengalami perkembangan yang pesat. Diharapkan kemajuan ini dapat juga dibarengi dengan peningkatan SDM Kota Palu. Selain membangun raga, Kota Palu juga perlu dibangun jiwanya.
peresmian mesjid ldii
Penyambutan Wakil Walikota Palu oleh Pengurus LDII Kota Palu (Dok.LDII Sulteng)

Dengan adanya peresmian Masjid Baitul Akbar ini (diharapkan) dapat membantu membangun jiwa masyarakat Kota Palu karena memang masih dibutuhkan tempat ibadah untuk menyeimbangkan antara jumlah penduduk dengan tempat peribadatan. Beliau juga sangat mengapresiasi warga LDII yang memiliki antusiasme tinggi dalam mewujudkan pembangunan masjid.
wakil walikota
Sambutan Wakil Walikota Palu (Dok.LDII Sulteng)

Masjid yang dibangun dari swadaya warga LDII ini menelan biaya 3,7 milyar. Pembangunan masjid yang dimulai tahun 2005 ini diharapkan dapat segera terselesaikan sebelum memasuki bulan ramadhan tahun ini.

Selain meresmikan penggunaan masjid, beliau juga menyerahkan surat keputusan kepengurusan untuk PAC (Pimpinan Anak Cabang) LDII Kelurahan Talise dan PC (Pimpinan Cabang) LDII Kecamatan Mantikulore. Harapan beliau agar pengurus yang telah menerima SK dapat melaksanakan tugas dengan baik sehingga dapat memaksimalkan dakwah yang dilakukan LDII pada masing-masing wilayah sehingga tercipta masyarakat yang sadar akan nilai-nilai agama yang saat ini mulai tergerus karena kecanggihan teknologi dan perubahan zaman.(zul)
Berikut video kegiatan Peresmian Masjid Baitul Akbar – Palu :