Ngadmin

Senam Pinguin Ala Caberawit PAC LDII Tatura Utara

PALU – Minggu, 8 Nov 2015, PAC LDII Tatura Utara menyelenggarakan agenda rutinnya yaitu senam bersama yang bertempat di halaman masjid Shirothol Mustaqim. Agenda yang rutin dilaksanakan setiap dua bulan sekali ini selain untuk mengisi waktu libur, juga bertujuan untuk lebih meningkatkan keakraban di antara caberawit itu sendiri maupun di antara para pengajar dan caberawit. Melalui kegiatan ini pula LDII tidak hanya mengajarkan tentang ibadah tapi juga tentang hidup sehat.

Generus LDIIKegiatan yang dimulai sejak pukul 06.30 hingga pukul 08.00 WITA ini diawali dengan senam Pinguin dan kemudian ditutup dengan sarapan bubur kacang ijo (burjo) bersama. Para orang tua pun merespon positive kegiatan ini terlihat ketika mereka mengantarkan buah hati mereka satu jam lebih awal sebelum acara dimulai agar anak-anaknya bisa mengikuti keseluruhan acara.

Senam Pinguin merupakan senam yang mulai diperkenalkan dan dipraktekkan di sekolah2 sejak tahun 2011. Adanya para guru-guru caberawit memilih senam Pinguin sebab selain gerakannya yang cocok untuk anak-anak, gerakan-gerakan didalamnya pun sangat unik layaknya Pinguin sehingga dapat menarik antusias para peserta terlebih lagi para caberawit. “Senam Pinguin ini tidak memakan waktu yang lama, gerakan-gerakannya pun ringan, namun meski begitu bisa mengeluarkan cukup banyak keringat yang bisa menyehatkan”, kata Alfi, salah seorang pengajar caberawit. Alhasil, para peserta pun mengikuti gerakan-gerakan pada senam tersebut dengan antusias sambil sesekali bercanda dengan teman disampingnya.Makan Bersama

Setelah kegiatan senamnya selesai, acaranya ditutup dengan mengumpulkan caberawit lalu mengarahkan mereka untuk sarapan bersama yang bertempat diteras masjid. Di tempat yang sama para pengajar telah menyiapkan mangkuk-mangkuk berisi burjo yang selanjutnya akan disantap bersama-sama. (NWind/LINES)

Artpreneur 2015: Seni Untuk Kemandirian

Jakarta (17/10). Komunitas Titik Temu menggelar Artpreneur 2015. Pameran seni ini merupakan ajang unjuk kreativitas para generasi muda LDII. Mereka ingin membuktikan dengan seni, mereka bisa mewujudkan kemandirian.

Acara yang dihelat di aula Wisma Besar DPP LDII ini menampilkan karya komunitas seniman muda warga LDII, yang tergabung dalam komunitas Titik Temu. Komunitas ini memiliki anggota di berbagai provinsi, yang umumnya seniman atau penyuka seni. Mereka memiliki komitmen yang kuat, dalam hal kemandirian. Beberapa karya mereka telah diterbitkan dalam rupa buku, maupun dipasarkan secara komersial.

artpreneur“Ternyata jika para generasi muda ini diberikan tempat dan panggung mereka bisa menunjukkan kreativitas yang luar biasa,” ujar Edwin Sumiroza ketua DPP bidang Pemuda Kepemudaan Olahraga dan Seni Budaya (PKOSB) saat membuka acara pameran seni berjudul Artpreneur. Menurut Edwin tanpa disadari, para generasi muda LDII mempunyai banyak talenta, ide, serta pemikiran yang luar biasa. Dan kini LDII mencoba mewujudkan ide para generasi muda tersebut menjadi karya nyata, dengan mendukung terselenggaranya acara selama dua hari.

Pameran ini  menampilkan berbagai karya seni dari para seniman muda LDII dengan tema bebas. Jumlah yang ditampilkan sebanyak 49 karya seni dari 25 seniman dari seluruh Indonesia. Meski bertema bebas, penampilan karya tetap melalui penyeleksian yang cukup ketat. “Penyeleksian dilakukan sangat ketat sebab, karya yang dipilih hanya karya yang benar-benar layak dan paling baik,” ucap ketua panitia Deni Nurwahyudi.seni lukis

Karya yang ditampilkan dalam pameran ini berupa seni lukis dari cat minyak, air, dan sketsa (gambar tangan), karya instalasi fashion dan kayu. Acara ini juga sebagai ajang berkumpulnya para seniman LDII di Indonesia, terutama dari Jabodetabek, Artpreneur menjadi semacam titik pertemuan mereka untuk membicarakan seni, namun tetap menjadi seorang muslim yang taat.

Selain pameran, dalam acara ini juga diisi dengan workshop pembuatan gelang scarf oleh para anggota Titik Temu serta talkshow dari para seniman LDII. Narasumber yang dihadirkan antara lain desainer baju muslim Jenahara, pembuat sepatu lukis Andina Irvani, pembuat ilustrasi story board Harry Soesanto,  pelukis handal Ujang Suryana, dan ilustrator muda berbakat Muhammad Taufik .

Saat itu, Muhammad Taufik atau yang akrab dipanggil Emte menuturkan, “Dalam berkarya jangan takut gagal pada bidang yang telah digeluti karena berkarya adalah proses belajar. Nikmati proses tersebut agar semua terasa ringan.” Emte juga memberikan tips agar ibadah tetap berjalan meski sedang sibuk dengan hobi, “Yang penting tahu skala prioritas. Ibadah itu di atas segalanya, dunia memang nomor dua tapi bukan berarti karena nomor dua kita jadi asal-asalan dalam mengerjakannya. Disiplin membagi waktu itu bisa kita pelajari dari beribadah tepat waktu,” ujarnya.

LDII juga berharap, dengan terselenggaranya pameran ini dapat menjadi inpirasi bagi para generasi muda, untuk bisa mewujudkan generasi mandiri yang  berkarya untuk diri sendiri dan lingkungannya. Edwin juga menambahkan, pameran ini sebagai langkah kongkrit LDII dalam membina generasi muda, agar benar-benar bisa menjadi pemegang tongkat estafet perjuangan mendatang. Dan memberikan energi positif dalam mencari jati diri, sekaligus mandiri dalam hal ekonomi. (Latifah Estrada Prakoso/Lines)

Polresta Balikpapan: Polisi Ajak Aman, LDII Ajak Iman

BALIKPAPAN – Era saat ini berbeda dengan era ketika zaman Rasulullah masih hidup. Jika dulu khamar atau minuman keras merupakan sesuatu yang memabukkan dan menghilangkan akal. Namun sekarang ini pengertian khamar bisa berupa obat-obatan, narkotika, termasuk lem bahan bangunan yang jika disalahgunakan dapat menghilangkan akal pikiran penggunanya.

“Apapun bentuknya selama menghilangkan akal itu haram,” tegas Ustad H Ainur Rosyid, saat mengawali pengajian bacaan, makna, serta keterangan Alquran Surat Al Maidah 90, di Masjid Al Mubarok Kapling, Balikpapan, Minggu (12/4/2015).

“Dengan adanya khamar dan maisir (perjudian), setan bermaksud menjatuhkan permusuhan dan kebencian di antara umat manusia,” ujar Ustad Ainur. Perkelahian bahkan pembunuhan, atau kejahatan lain kerap dimulai karena mengonsumsi khamar. Ustad Ainur mengatakan, mereka yang mengonsumsi khamar tidak lagi menggunakan akal pikiran yang sehat, bahkan sulit membedakan mana yang baik dan mana yang jelek. Akibatnya, semua usaha setan diikutinya.

“Orang yang hilang akal itu jauh dari salat,” tandas Ustad Ainur dengan mengutip Alquran yang menyebutkan bahwa sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan buruk dan mungkar. Pengertian ayat tersebut menunjukkan bahwa jika seseorang salat dengan tertib dan baik, maka ia akan terhindar dari perbuatan buruk dan mungkar. “Tidak ada ceritanya orang yang hobi minuman keras, orang yang hobi berjudi, tetapi tertib salatnya,” jelas Ainur.

Menurut Ustad, berdasarkan Surat Al Maidah 91, akibat khamar dan maisir (judi), pertama tumbuhnya permusuhan, kedua timbulnya kebencian antara satu dengan yang lain, ketiga tidak ingat pada Allah sama sekali atau jauh dari ingat pada Allah, dan yang keempat menghalangi salat. “Padahal salat itu tiang agama. Salat menjadi barometer muslim. Ketika salatnya baik, maka yang lain baik, ketika salatnya jelek, maka yang lainnya jelek,” jelas Ustad Ainur.

Polisi ajak aman, LDII ajak imanSenada dengan hal itu, Ipda Joko Sunarto dari Satbinmas Polres Kota Balikpapan, sepakat dengan apa yang disampaikan Ustad Ainur, adalah bagian dari pembinaan pada masyarakat dan umat. “Ustad sama dengan Binmas, memberikan pembinaan dan penyuluhan,” ujar Ipda Joko. “Ini harus didukung dan kita harus kerja sama-sama,” jelasnya lebih lanjut.

Kehadiran kembali Ipda Joko Sunarto dalam kegiatan pengajian ini, merupakan kelanjutan dari kerjasama antara DPD LDII Kota Balikpapan dengan Kepolisian Resort Kota (Polresta) Balikpapan, dalam rangka sosialisasi pencegahan kenakalan remaja, bahaya narkoba, dan tertib lalu lintas beberapa waktu yang lalu.

Pada kesempatan ini hadir pula Kasat Binmas AKP Subekti, mewakili Kepala Polres Kota Balikpapan, sekaligus mengawali materi sosialisasi tentang pentingnya tertib lalu lintas. “Kalau Pak Ustad ceramah supaya umatnya beriman, kalau Pak Kasat Binmas bersama anggotanya ceramah supaya masyarakat aman. Bedanya iman dan aman,” kata AKP Subekti ketika memperkenalkan diri pada jamaah pengajian.

“Orang aman tentu harapannya supaya hati kita menjadi tentram, orang beriman juga tujuannya supaya hati kita bahagia, baik bahagia dunia dan kelak di akhirat,” ujar AKP Subekti. Menurutnya, apabila masyarakat dan semua umat beragama menjadi orang beriman atas tugas dan kerjasama ustad, maka tugas kepolisian menjadi ringan.

Sementara itu, Ketua DPD LDII Balikpapan, H Abdul Rachman Zain SE, mengatakan bahwa dalam kerjasama sebelumnya, secara simbolis Polresta Balikpapan memberikan tandan kehormatan berupa pin Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas di Jalan Raya. “Pin yang saya kenakan di sebelah kiri saya ini tidak ada dijual di toko, tetapi diberikan khusus kepada saya, sebagai Ketua LDII Balikpapan, dengan maksud memberikan contoh kepada semua warga LDII,” ujar H Abdul Rachman Zain.

LDII ajak iman, POLRI ajak aman“Kalau ketuanya memakai pin keselamatan tertib berlalu lintas di jalan raya, tidak kebut-kebutan, tidak menggeber suara knalpotnya, ini menjadi contoh penting,” lanjutnya lagi. “Dengan harapan, warga LDII yang ada di Balikpapan juga bisa menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas di jalan raya, termasuk menggunakan alat keselamatan diri seperti helm standar,” tambahnya panjang lebar.

Meski diiringi guyuran hujan dan udara yang dingin sejak pagi hingga siang hari, ratusan peserta yang terdiri dari anak-anak, remaja, hingga orang tua hadir mengikuti kegiatan sampai tuntas. Acara berlangsung mulai pukul 8.30 WITA sampai dengan pukul 11.30 WITA.

Selama acara berlangsung peserta tampak antusias. Ini terlihat dalam satu sesi pertanyaan muncul beberapa penanya, berkaitan dengan tertib berlalu lintas bagi penyandang cacat, dan teknis pelaporan pada pihak berwenang apabila masyarakat mengetahui narkoba di lingkungan sekitar. Di akhir sesi, pengajian ditutup doa dipimpin Ustad H Ainur Rosyid, setelah itu foto bersama dengan tokoh masyarakat sekitar dan ramah tamah. (SA/LINES)

LDII Depok Membentuk Generasi “Melek Media”

00007.MTS_snapshot_00.06_[2015.03.26_21.02.14]LDII News Network (LINES) mengadakan pelatihan jurnalistik untuk generasi muda DPD LDII Kota Depok. Acara tersebut selain membuka LINES Depok, juga memberi “pemahaman” mengenai media atau media literacy.

Menurut lembaga riset pasar e-Marketer,  populasi netter di Indonesia mencapai 83,7 juta orang pada 2014. Angka ini bakal mencapai 112 juta pada 2017 mendatang. Artinya, pertukaran informasi kian luas dan melibatkan ratusan juta orang. “Dengan adanya internet, berbagai informasi mudah disebar. LDII dalam dakwahnya tentu saja membutuhkan internet, karena sekali berdakwah bisa menjangkau khalayak yang lebih luas,” ujar Sekretaris DPD LDII Kota Depok Supriyono Agung.

Ratman Latief berharap dengan adanya pelatihan jurnalistik, generasi muda LDII dapat mengisi internet dengan berbagai hal yang positif. Sementara itu Muhammad Rosyid Setiadi Koordinator Divisi Kemandirian PPG DPD LDII Kota Depok, yang juga ketua panitia, menargetkan generasi muda LDII Kota Depok dapat bergabung dengan LINES, untuk bersama-sama cabang LINES di tujuh kota lain di Indonesia. Untuk berbagi informasi, memberitakan berbagai kontribusi LDII terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, “Islam sebagai agama mayoritas penduduk Indonesia, haru memberi kontribusi positif, untuk itu harus diberitakan agar menjadi inspirasi bagi rakyat Indonesia di berbagai pelosok tanah air,” papar Rosyid.

Acara yang digelar pada Sabtu dan Minggu, 21-22 Maret 2015 di Gedung Serbaguna Masjid Baitul Faqih, Kalimulya Depok ini terlaksana berkat kerja sama DPD LDII dan Penggerak Pembina Generus (PPG). Pelatihan ini menghadirkan Pemimpin Redaksi LINES, Ludhy Cahyana yang juga wartawan Beritasatu News Channel, Kameramen Trans7, Adi Wijaya, Departemen Komunikasi, Informasi, dan Media Massa DPP LDII, Eko Mugianto yang juga kru redaksi Majalah Nuansa Persada, serta Riyan Hidayat kru LINES. Mereka dibantu Wakil Pemimpin Redaksi LINES, Yusuf Wibisono, dan beberapa kru LINES di antaranya Noni Mujiani, Retno, dan Khoiruddin.

Mereka menyampaikan dasar-dasar jurnalistik meliputi jurnalistik media cetak dan online, serta jurnalistik televisi. “Kami berharap dengan berdirinya LINES Depok, masyarakat mengenal dan mengetahui berbagai kegiatan LDII, dan LDII Depok khususnya. Ini menjadi amal jariyah kawan-kawan karena mereka berdakwah melalui tulisan,” ujar Ludhy Cahyana.

Sulitnya Bertanya

Dalam pelatihan tersebut diajarkan bagaimana menjadi seorang wartawan yang baik dalam membuat berita. Sebab dalam jurnalistik, tidak hanya sekedar mencari informasi kemudian dituangkan ke dalam bentuk tulisan atau foto. Jurnalis atau yang lebih dikenal dengan wartawan, harus mengenali informasi yang layak berita, bagaimana wawancara yang baik, etika ketika berhadapan dengan narasumber, dan membiasakan diri banyak membaca.

gembong jamaahMenurut Ludhy, bertanya lebih sulit daripada menjawab. Membuat pertanyaan tidak akan mudah jika tidak mengetahui akar permasalahan topik yang dibahas. Di hadapan sekitar 30 peserta pelatihan, Ludhy berpendapat, tidak ada media yang seratus persen benar. Karena itulah para pencari berita dituntut harus banyak membaca, menggali informasi dari berbagai sumber sehingga dapat memperkuat topik yang dijadikan berita.

Terlebih lagi, setiap narasumber memiliki karakter berbeda-beda. Dalam hal mengajukan pertanyaan, wartawan dilarang mengintimidasi narasumber. Disarankan, alangkah baiknya bersikap seolah tidak tahu, sehingga mendapat lebih banyak informasi dari narasumber. Jangan sampai, wartawan yang seharusnya mendapat berita penting malah ‘terusir’ oleh narasumber hanya karena kurang memiliki sikap yang baik. Nilai kesopanan harus diutamakan sehingga antara wartawan dan narasumber terjalin hubungan baik.

Ludhy mendefinisikan berita adalah proses rekonstruksi fakta sosial kepada fakta media. Berita yang dibaca, ketika mengalami rekonstruksi sudah bukan berita yang sebenarnya. Karena itu disarankan, jangan membaca hanya pada satu media. “Berita, tidak boleh ada opini di dalamnya. Ketika di lapangan, para wartawan harus mencari akar masalahnya dan harus netral. Hal ini berguna untuk menghindari berita yang bias,” ujar Ludhy.

Selain membuat berita, juga diajarkan cara menyampaikan berita di hadapan kamera, yang dibawakan oleh Eko Mugianto yang dulunya pernah berprofesi sebagai dubber. Sebelumnya, para peserta diarahkan untuk melatih vokal, artikulasi, dan intonasi pengucapan berita. Tujuannya, agar saat menyampaikan berita mudah dipahami yang menyimak berita. Jika teknik tersebut tidak diperhatikan, berita akan terasa hambar. Penting juga mengolah gestur atau sikap tubuh saat membacakan berita. Sehingga seolah-olah berita tersebut sangat mempengaruhi.

ldii tvSementara itu Riyan Hidayat menyampaikan materi foto jurnalistik. Fotografi dalam jurnalistik sangat penting sebab menjadi pendukung berita tulis. Para jurnalis foto harus memahami berbagai teknik foto yang baik dan menemukan angle terbaik sehingga hasilnya memiliki nilai berita. Jika tidak ada foto atau gambar, berita tulis tidak akan ada artinya. Demikian juga dalam hal pengambilan gambar video. Adi Wijaya kameramen Trans7 mengajarkan berbagai teknik pengambilan visual dan editing. Menurut Adi, kekuatan berita televisi terdapat pada visual. Seorang kameramen, harus mampu membuat berita atau film dokumenter tidak membosankan. Meskipun alurnya runut, namun angle kamera yang beragam, membuat penonton betah berlama-lama menikmati informasi yang disajikan.

Para pemateri berpesan, bila suatu saat di antara generasi muda di Depok menjadi seorang wartawan, mereka bukan hanya memiliki profesionalitas yang mumpuni, namun memiliki kepribadian yang baik. Sebagaimana LDII yang selalu menekankan warganya, untuk menjadi pribadi yang profesional religius. (Noni/LINES)

Soft Launching Gedung DPW LDII Jakarta

Kantor ormas adalah jantung aktivitas sosial kemasyarakatan. Itulah sebabnya DPW LDII Jakarta berusaha keras mewujudkan sebuah kantor, untuk memudahkan aktivitas dakwah dan melakukan pertemuan dengan ormas lain. Pada Rabu (18/3) lalu, DPW LDII DKI Jakarta menggelar soft launching, yang dihadiri jajaran pengurus harian DPP LDII, para dewan penasehat DPP LDII, pengurus harian dan para dewan penasehat DPD LDII se-DKI Jakarta. 

Keberadaan sebuah kantor bagi ormas Islam seperti LDII sangat penting dan strategis. Dengan kantor yang representatif, segala kegiatan organisasi dapat dikoordinasikan dan dikonsolidasikan setiap hari. Di antara 34 kantor DPW LDII se-Indonesia, baru Jawa Timur dan Jawa Tengah yang memiliki kantor yang dilengkapi ruang pertemuan serbaguna, dan fasilitas pendukung yang memadai.

“Dinamika dakwah di ibu kota sangat luar biasa, sayangnya kami belum memiliki kantor yang representatif. Dengan pembangunan gedung ini kami dapat mengundang ormas lain, atau melakukan berbagai kegiatan bersama-sama dengan ormas lain,” ujar Ketua DPW LDII DKI Jakarta, Ir. H. Teddy Suratmadji, M.Sc. Sebelum pembangunan gedung DPW LDII DKI Jakarta, berbagai kegiatan LDII Jakarta meminjam fasilitas gedung yang dimiliki DPP LDII.

Gedung kantor DPW LDII DKI Jakarta terletak bersebelahan dengan kantor DPP LDII. Bahkan, dua gedung ini terhubung dengan koridor di lantai dua. Koridor tersebut menghubungan ruang kantor DPW LDII DKI Jakarta dengan masjid kantor DPP LDII. Arsitekturnya, dirancang saling mengkait atau terhubung, dengan filosofi, antara DPP LDII dan DPW LDII DKI Jakarta merupakan kesatuan yang saling bersinergi. Dengan demikian, kegiatan LDII Jakarta yang membutuhkan ruang sangat besar, masih bisa memanfaatkan ruangan milik DPP LDII.

Gedung dengan berlantai tiga tersebut, menurut Teddy, difungsikan sebagai pusat kegiatan LDII di DKI Jakarta, bahkan ia akan mempersilakan para pemuda LDII menyalurkan kreatifitasnya di gedung tersebut. “Prinsipnya ada tujuh hari dalam seminggu, kami akan membaginya per hari untuk mewadahi kegiatan LDII Jakarta. Termasuk kegiatan para pemuda. Kami jamin, gedung ini nantinya tak akan sepi,” papar Teddy.

Gedung seluas sekitar 1.000 meter persegi tersebut, menghabiskan anggaran Rp 6 miliar dan dibangun secara swadana dan swadaya warga LDII. Konsultan pembangunan semua warga LDII, hal ini memungkinkan proses gambar hingga pembangunan gedung bisa lebih hemat dan efisien. Tim pembangunan gedung yang berjumlah lima, dapat bekerja sama menggerakkan sumberdaya manusia yang mereka kerahkan, sehingga pembangunan gedung cukup memakan waktu dua tahun. Menurut perwakilan Tim Pembangunan Gedung DPW LDII Jakarta, Ir. H. Timmy Setiawan, pembangunan gedung yang memiliki 16 ruangan ini dirancang untuk memaksimalkan fungsi setiap ruangan yang ada.

DSC_0027 DSC_0025 DSC_0023 DSC_0008 DSC_0013 DSC_0014 jamaah benar

Ruangan-ruangan itu terbagi dalam tiga lantai. Lantai dasar difungsikan untuk kegiatan umum, sedangkan lantai dua digunakan sebagai tempat kerja, serta rooftop sebagai fasilitas tambahan. Untuk kegiatan umum, lantai dasar didukung dengan ruang tamu, ruang VIP, ruang rapat pengurus harian serta mushola dan dua toilet. Menurut Ketua Dewan Penasehat DPW LDII DKI Jakarta, KH Malikul Kusno,

gedung tersebut dapat menjadi kebanggaan warga LDII, karena menjadi bukti kerukunan dan kekompakkan antar warga LDII. Terlebih lagi, dalam Islam diajarkan untuk selalu berbudi luhur kepada sesama manusia agar tercipta kerukunan dan menghindari perpecahan.

para pembesar ldiiPeresmian gedung DPW DKI Jakarta yang dihadiri 12 Wanhatda, serta para ketua DPD Kota, dan pengurus harian DPP ini, ditutup dengan doa bersama dan penandatanganan prasasti.