BALIKPAPAN, 14/ 09 – Kapolda Kalimantan Timur Irjen Pol.Drs.Herry Rudolf Nahak, M.Si bersama Pangdam VI Mulawarman Mayjen TNI Heri Wiranto, Walikota Balikpapan, Satgas Penanganan Covid-19 bersama tokoh masyarakat membagikan 23.500 masker kepada masyarakat di Terminal Balikpapan Permai Batu Ampar dan Pasar Klandasan Balikpapan, 10/09. Dikutip dari poldakaltim.com, Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol. Ade Yaya Suryana mengatakan kegiatan ini digelar dalam rangka Operasi Yustisi Penggunaan Masker untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona atau Covid-19.
“Kegiatan ini digelar secara serentak di seluruh Indonesia. Untuk wilayah Kaltim, kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kapolda Kaltim Irjen Pol. Drs. Herry Rudolf dan Pangdam VI Mulawarman Mayjen TNI Heri Wiranto” terang Ade Yaya Suryana. Sasaran kampanye jaga jarak, menghindari kerumunan, dan pembagian masker ini ditujukan kepada para pedagang pasar, sopir angkot, tukang ojek, dan tokoh masyarakat. Menurutnya, kegiatan ini juga dalam rangka menyerukan terciptanya pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2020 yang aman, damai, dan sehat di wilayah Kalimantan Timur.
“Secara keseluruhan ada sebanyak 470.000 masker yang kami bagikan kepada masyarakat di Kalimantan Timur, kami berharap masyarakat dapat mematuhi protokol kesehatan, salah satunya dengan menggunakan masker” ujar Ade Yaya. “Tidak hanya membagikan masker saja, namun kami juga memberikan pemahaman terkait pentingnya menerapkan protokol Kesehatan kepada masyarakat dan mengajak seluruh masyarakat untuk sama-sama ikut terlibat dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan cara disiplin protokol Kesehatan dan hindari kerumunan” jelas Ade Yaya.
Pada kesempatan ini, Ketua LDII Balikpapan H Herry Fathamsyah turut hadir bersama FKUB, MUI, dan ormas lainnya terlibat dalam kegiatan pembagian masker dan kampanye jaga jarak. Secara singkat, H.Herry menuturkan bahwa sebagai warga dan masyarakat Balikpapan, dirinya akan mengimbau warga LDII untuk selalu menjaga jarak, mengenakan masker, mencuci tangan, dan menghindari kerumuman (berkumpul). “Kami berharap, semua jajaran pengurus LDII Kota Balikpapan mulai DPD, PC, PAC, agar menyerukan kepada seluruh warga LDII untuk patuh dan melaksanakan imbauan Pemerintah Kota Balikpapan, Kepolisian, TNI untuk selalu disiplin 3M, menjaga jarak, mencuci tangan, dan mengenakan masker,” tuturnya. Ini semua, lanjutnya, dalam rangka ikhtiar mencegah meluasnya wabah Covid-19. Semoga wabah Covid-19 dan penyakit lainnya segera berakhir. (SA/LINES)
LDII Sultra & Tokoh Lintas Agama Bersilaturrohim dengan Kapolda
Kendari, 14/09 – Ketua DPW LDII Prov Sulawesi Tenggara L.Kadir,SPd mengikuti kegiatan silaturahim dengan Kapolda Sultra bersama tokoh-tokoh lintas agama tingkat Prov Sultra bertempat di ruang Kerja Kapolda Sultra.
Kapolda Sultra mengucapkan terima kasih atas kunjungan silaturrohim ini, dan meminta kerja sama yang baik untuk menciptakan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut adalah Drs.H.A.Rustam Tamburaka perwakilan dari FKUB, Zainal Mustamin perwakilan dari MUI, L.Kadir perwakilan dari LDII, Pdt.Marten Sambera, perwakilan dari Protestan, Pastor Willibrordus perwakilan Katholik, dan Prof. I. Gusti Ayu perwakilan dari Hindu.
Baznas dan BPBD DKI Jakarta Gelar Pelatihan Relawan Masjid Tanggap Bencana
JAKARTA, 15/09 – Baznas (Bazis) DKI Jakarta bekerjasama dengan BPBD DKI Jakarta menggelar Pelatihan Relawan Masjid Tanggap Bencana bertempat Graha Mental Spiritual Gedung Jakarta, 12/09.
Ketua Bazis Jakarta KH. Ahmad Luthfi Fathulloh menuturkan, kegiatan ini diprakarsai atas dasar kepedulian Bazis terhadap masjid jika terjadi bencana di masa mendatang. Luthfi berharap dengan dibentuknya relawan masjid ini, penanganan bencana khususnya di area masjid dapat segera tertangani. “Bahkan jika diperlukan relawan wajib membantu masyarakat sekitar masjid yang membutuhkan bantuan. Sebagai salah satu bentuk pelaksanaan Sunnah Rasulullah SAW, dalam hal kepedulian.”

Acara ini diikuti 55 Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dari wilayah DKI Jakarta. Hadir sebagai pemateri utusan dari BPBD DKI Jakarta Embay Suhaimi dan Ketua Tanggap Bencana Bazis Provinsi DKI Jakarta Yudiman
Pada kegiatan ini DPW Provinsi LDII DKI Jakarta mengutus para pengurus DKM-nya mengikuti kegiatan tersebut. Menurut Ketua DPW LDII Provinsi DKI Jakarta, Ir.H.Teddy Suratmadji,MSc pembentukan relawan masjid ini menjadi penting sebagai bagian dari kontribusi LDII terhadap masyarakat. “Dalam situasi wabah Covid-19 seperti sekarang ini, masjid dan pengurusnya memegang peranan penting dalam salah satunya pencegahan dan juga pendistribusian bantuan,” ujar Teddy. /*
Wapres Maruf Amin Ajak LDII Bersama Atasi Dampak Covid-19
JAKARTA, 05/09 – Wapres RI, Ma’ruf Amin, menerima audiensi DPP LDII yang dipimpin Pj Ketua Umum Chriswantos Santoso. Dalam pertemuan itu Ma’ruf Amin memberikan beberapa arahan dan masukan bagi LDII.
Dalam pertemuan itu, Ma’ruf Amin menjelaskan prioritas mengenai pembangunan sumber daya manusia, melanjutkan pembangunan infrastruktur, penyerdehanaan regulasi, reformasi birokrasi, dan transformasi ekonomi.
Pada saat pandemi Covid-19 ini, Ma’ruf Amin menambahkan, pemerintah fokus pada tiga hal yaitu penanggulangan dampak Covid-19 pada kesehatan, penanggulangan dampak Covid-19 pada ekonomi dan sosial, serta penerapan protokol kesehatan.
“Sampai hari ini, untuk penerapan protokol kesehatan, belum bisa berjalan secara masif dan dipatuhi oleh seluruh anggota masyarakat. Untuk ini masih diperlukan sosialisasi, edukasi, dan pengawasan masif di lapangan. Penerapan protokol kesehatan ini ada pada masyarakat,” ujar Ma’ruf Amin.

Ia berharap, tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, termasuk ormas keagamaan seperti LDII, membantu pemerintah. Karena ini juga bagian dari agama, “Agama Islam mengajarkan bahwa jangan membayakan diri dan orang lain termasuk keluarga kita tentunya. Ketidakpatuhan kita pada protokol kesehatan bisa membahayakan diri kita dan orang lain,” ujar Ma’ruf Amin.
Untuk LDII, Wapres RI beharap, LDII bisa membantu dalam melayani masyarakat, sebagai tanggung jawab ormas pada bidang kebangsaan dan kenegaraan. Selain itu, ormas juga diharapkan mempunyai tanggung jawab dalam bidang keagamaan dan keummatan.
Sependapat dengan Ma’ruf Amin, untuk membantu pemerintah Pj Ketua Umum DPP LDII memaparkan delapan bidang program kerja LDII, yang meliputi Wawasan Kebangsaan, Keagamaan dan Dakwah, Pendidikan, Ketahanan Pangan dan Lingkungan, Ekonomi Syariah, Kesehatan dan Herbal, Energi Terbarukan, dan Teknologi Informasi.
Menurut Chriswanto Santoso, delapan bidang tersebut sebagai salah satu kontribusi LDII kepada bangsa dan negara. “Sebagai salah satu contoh untuk Wawasan Kebangsaan, LDII telah melakukan FGD dan beberapa kegiatan untuk mengokohkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Untuk dakwah di mana sebagai lembaga dakwah, LDII tidak hanya melakukan dakwah kepada khalayak umum tetapi juga kepada kelompok masyarakat marjinal seperti kepada sekelompok suku terasing di Sulawesi Tengah, pada komunitas penderita kusta dan kelompok penyandang tuna rungu dan wicara di Jawa Timur, dan kepada narapidana di salah satu lembaga pemasyarakatan di Sulawesi Selatan.

Ada pun untuk bidang kesehatan, misalnya, kami mendorong dan memanfaatkan obat herbal yang merupakan obat tradisional dan kita memiliki sumber daya yang melimpah untuk herbal ini, karena itu, ini salah satu upaya dalam meningkatkan imunitas tubuh dan ini termasuk bagian dari pencegahan dan penanggulan terhadap pandemi virus Covid-19,” jelas Chriswanto Santoso disela-sela pemaparannya kepada Wapres RI.
Chriswanto Santoso menambahkan juga beberapa kegiatan LDII dalam rangka membantu pemerintah di bidang pencegahan dan penganggulangan dampak Covid-19. “DPP LDII telah menyelenggarakan webinar tentang pencegahan dan penanggulangan Covid-19 di pondok-pondok pesantren bekerja sama dengan perwakilan Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, dalam perwakilan pondok pesantren di berbagai wilayah Indonesia, termasuk dengan Asosiasi Pesantren NU, Rabithah Ma’ahid Islamiyah.
Harapannya webinar ini sebagai salah satu upaya mensosialisasikan bagaimana penerapan protokol kesehatan di lingkungan pesantren dan membekali para pengelola dan santri pondok tentang pengetahuan dan wawasan terkait pandemi Covid-19. Nara sumbernya selain dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, juga ahli pandemi dari Universitas Griffith, Australia,” ungkap Chriswanto Santoso
Ma’ruf Amin menghargai delapan program kerja LDII tersebut, “Delapan program yang dipaparkan Pak Chriswanto tadi itu merupakan bagian memperbaiki umat. Itu tanggung jawab bidang keagamaan dan keummatan. Harapan saya, ormas-ormas itu tidak hanya melakukan pertemuan-pertemuan tapi juga melakukan perbaikan,” ujar Ma’ruf Amin.

Ia meminta LDII dan ormas Islam lainnya memunculkan pusat-pusat perbaikan di beberapa titik. Pondok pesantren bisa menjadi salah satu pusat perbaikan itu, “Baik perbaikan bidang ahlak, perbaikan ekonomi misalnya membantu kaum dhuafa, juga perbaikan kualitas SDM umat agar mampu berkompetisi, dalam hal ini melalui pendidikan,” ujar Ma’ruf Amin.
Ma’ruf Amin memberikan apresiasi atas program dan kegiatan yang sudah dilakukan LDII. “Saya berharap program-program yang dipaparkan Pak Chriswanto itu agar terus dilanjutkan. Sehingga program-program itu merupakan partisipasi ormas dalam pembangunan bangsa dan negara,” ujar Ma’ruf Amin.
Selain itu, Ma’ruf Amin berharap agar ormas juga berpartisipasi dalam membangun kesatuan umat. “Sekarang ada forum kerukunan antar umat beragama di tingkat provinsi dan kabupaten maupun kota, tapi belum ada forum seperti itu di tingkat pusat. Sementara selalu ada masalah yang merusak keutuhan umat dan kerukunan di antara umat beragama. Dan ancaman radikalisme, ekstremisme itu, masih ada. Karena itu, perlu kita mantapkan baik untuk pencegahan dan penanggulangannya,” ujar Ma’ruf Amin. (*)
Sulitkah Menjadi Profesor?
Oleh: Anton Kuswoyo, S.Si., M.T.
Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan dan Sistem Informasi, Politeknik Negeri Tanah Laut.
Ketua DPD LDII Kabupaten Tanah Laut.
Dalam sebuah Perguruan Tinggi (PT), kehadiran profesor sangat menentukan akreditasi PT tersebut. Oleh karena itu, tidak heran jika Rektor Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), Profesor Sutarto Hadi menargetkan Unlam menghasilkan 10 profesor per tahun dalam rangka untuk meningkatkan akreditasi Unlam dari B menjadi A. Akreditasi tentunya menjadi ukuran kualitas sebuah perguruan tinggi.
Jabatan akademik profesor, merupakan jabatan sangat terhormat di semua perguruan tinggi di seluruh dunia. Profesor sangat berperan menghasilkan penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi baru. Bukan sekadar penemuan biasa, namun penemuan yang menghasilkan hak paten. Tentu ini bukanlah perkara mudah, sehingga jabatan profesor hanya cocok bagi dosen yang memiliki dedikasi tinggi terhadap ilmu pengetahuan.
Menurut Undang-Undang RI No 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen pasal 49 dijelaskan bahwa profesor merupakan jabatan akademik tertinggi. Bagi akademisi (dosen) menjadi profesor merupakan impian tertingginya. Perlu empat anak tangga untuk mencapai gelar profesor, yakni melalui jabatan fungsional Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, baru kemudian Profesor.
Syarat mutlak untuk menjadi seorang profesor adalah harus berpendidikan doktor (S3) yang linear keilmuannya dengan pendidikan sebelumnya. Pertanyaannya, seberapa sulitkah untuk meraih jabatan akademik profesor?
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No 92 Tahun 2014 tentang petunjuk teknis pelaksanaan penilaian angka kredit jabatan fungsional dosen, dijelaskan pada pasal 10 bahwa untuk kenaikan jabatan akademik secara reguler dari Lektor Kepala ke Profesor hanya melalui tujuh syarat. Yakni, memiliki pengalaman kerja sebagai dosen tetap paling singkat 10 tahun; berpendidikan S3; paling singkat 3 tahun setelah memperoleh ijazah doktor (S3); paling singkat 2 tahun menduduki jabatan Lektor Kepala; telah memenuhi angka kredit; memiliki karya ilmiah yang dipulikasikan dalam jurnal ilmiah internasional bereputasi sebagai penulis pertama; dan memiliki kinerja, integritas, etika tata krama, serta tanggung jawab.
Dari tujuh syarat tersebut, hal yang paling penting adalah bagaimana mampu menembus publikasi internasional. Selebihnya adalah syarat yang bisa dipenuhi dengan mudah. Untuk menembus publikasi internasional, maka seorang dosen harus menghasilkan penelitian ilmiah yang berkualitas. Kunci utama bagi seorang dosen adalah produktif dalam penelitian dan publikasi (baca: menulis) hasil penelitian tersebut pada jurnal nasional maupun internasional.
Meneliti dan Menulis
Tidak bisa tidak bahwa dosen dituntut untuk bisa merancang dan melakukan penelitian ilmiah (meneliti), sekaligus terampil dalam menulis. Karier dosen adalah “career by research”. Artinya karier dosen itu harus ditempuh melalui penelitian (research). Semakin produktif dosen dalam penelitian semakin bagus kariernya, bahkan bisa segera mencapai puncak karier tertinggi yakni profesor.
Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand, Indonesia masih jauh tertinggal dalam hal penelitian yang terpublikasi pada jurnal internasional. Berdasarkan Indeks Scopus, saat ini Indonesia menempati urutan ke-11 di Asia dalam peringkat jumlah publikasi jurnal ilmiah internasional.
Scopus merupakan sebuah database indexing publikasi yang menjadi salah satu tolok ukur bonafidenya sebuah publikasi, sekaligus sebagai salah satu penyedia metrics publikasi di seluruh dunia. Sementara tiga negara tetangga sudah jauh di atas Indonesia. Singapura pada peringkat 7, Malaysia pada peringkat 8, dan Thailand berada di peringkat 9. Padahal dulu, tahun 80’an Malaysia belajar di kampus Indonesia, kini Malaysia justru melampaui kita. Berdasarkan Indeks Scopus, jumlah publikasi Indonesia per tahun 2013 hanya mencapai 25.481, bandingkan dengan Malaysia yang tembus pada angka 125.084.
Berkaca dari kondisi tersebut, maka kelemahan kita saat ini adalah masih rendahnya produktivitas di bidang penelitian dan publikasi internasional. Penelitian berkaitan dengan kreativitas dan inovasi, sedangkan publikasi berkaitan dengan kemampuan menulis. Dua hal ini yang penting untuk dikuasai setiap dosen, yakni meneliti dan menulis. Jika dua hal tersebut dimiliki oleh masing-masing dosen, maka jabatan profesor dengan sendirinya akan dapat diraih.
Namun jabatan profesor bukanlah tujuan utamanya. Yang lebih penting sebenarnya adalah apa yang bisa dihasilkan oleh setiap dosen dalam bidang iptek bagi kemaslahatan umat manusia. Memang tugas dosen tidak hanya mengajar layaknya guru. Tugas dosen adalah melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah dosen harus rajin mengumpulkan berkas/arsip seperti SK, surat tugas, karya ilmiah, sertifikat-sertifikat (pembicara, penyaji, moderator, dan lain-lain).
Bukan Tujuan Akhir
Laksana padi, semakin berisi semakin merunduk. Pepatah ini paling tepat untuk menggambarkan sosok profesor. Kita tahu bahwa profesor merupakan jabatan akademik tertinggi. Profesor adalah pakar di bidang ilmu tertentu. Kepadanya diberikan kehormatan akademik sekaligus tunjangan finansial yang lumayan. Namun, menjadi profesor bukanlah tujuan akhir.
Gelar profesor hanyalah bentuk pengakuan dan penghormatan, sementara esensinya adalah bahwa seorang profesor adalah mereka yang punya dedikasi tinggi terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan agama.
Hal yang sangat ironi terjadi adalah saat masih ada profesor yang terlibat kasus asusila dan narkoba di sebuah kamar hotel bersama mahasiswinya, atau yang terkena kasus suap SKK Migas.
Bahkan, di antaranya melakukan tindakan tidak terpuji untuk meraih gelar profesor, seperti plagiat, memalsukan ijazah, sertifikat dan sejenisnya. Tentu bukan profesor jenis ini yang kita inginkan. Tapi yang kita harapkan adalah profesor yang menganut ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.
Profesor, sejatinya adalah yang bukan hanya mempunyai kepakaran terhadap bidang ilmu tertentu, tapi juga memiliki integritas, dedikasi, dan menjalankan nilai-nilai agama dalam setiap langkahnya. Yang tidak kalah pentingnya adalah selalu produktif dalam penelitian ilmiah dan publikasi jurnal internasional. Pada akhirnya nanti, peran profesor akan mengangkat martabat bangsa dan negara dalam komunitas internasional. Semoga PT di Kalimantan Selatan khususnya, mampu mencetak profesor-profesor baru tiap tahunnya. Profesor dari banua yang membangun untuk banua dan negeri tercinta, Indonesia. (*)
Artikel ini telah tayang di banjarmasinpost.co.id dengan judul Sulitkah Menjadi Profesor?