Ngadmin

Ulama dan Tokoh Agama Kabupaten Bima Kunjungi Ponpes LDII Wali Barokah

Sabtu (31/01), Ulama dan tokoh agama kabupaten Bima, NTB mengunjungi pondok pesantren (Ponpes) LDII Wali barokah, Kediri. Kehadiran rombongan Ulama yang dipimpin kepala kantor kementerian agama Kabupaten Bima Drs. H. M. Saleh Karim disambut hangat oleh Ketua Ponpes Wali barokah KH. Soenarto, M, Si dan didampingi jajarannya.

jalan-jalan dimesjid ldiiPada kesempatan kali ini KH. Soenarto mengajak para rombongan kabupaten Bima mengelilingi di sekitar ponpes Wali Barokah. Melihat kemegahan dan segala aktifitas kegiatan di dalam Ponpes Wali Barokah H. Saleh Karim. Ia memuji suasana pondok yang riuh dengan  aktifitas santri-santrinya yang begitu tertib dan disiplin. Dari hal terkecil, sandal santri yang tertata rapi di latar masjid, santri berjalan dengan tertib, pakaian santri yang rapi sesuai syariat dan lingkungan yang bersih.

Setelah berkeliling Ponpes Wali Barokah, para rombongan mengunjungi perpustakaan Majelis Taujih Wal Irsyad yang selama ini sebagai tempat rujukan dan kajian para Ulama LDII lengkap dengan Al Hadits Kutubus sittah dan hadits besar lainnya. Di perpustakaan Majelis Taujih Wal Irsyad, Syeikh Abdul Aziz Ridwan memaparkan kurikulum dan manajemen pembinaan ponpes Wali Barokah di hadapan para rombongan.

perpustakaan ldiiSyeikh Abdul Aziz Ridwan di dalam pemaparannya mengatakan, dasar kurikulum Ponpes Wali Barokah adalah mencetak para dai pemula sebanyak-banyaknya. Agama Islam di zaman sekarang terus dihujani kultur negara Barat. Generasi muda lebih mengidolakan artis-artis negara Barat dibanding para Nabi. Tidak hanya itu mereka berusaha merusak Islam dengan cara beradu argumen (perang urat syaraf) lewat opini maupun tulisan yang tersebar di media online. Apalagi mereka penguasa di bidang teknologi dan informasi.

“ini artinya kondisi agama Islam dalam keadaan genting.  Ini yang harus kami benahi  yang sifatnya segera, artinya tidak bisa ditunda lagi untuk masyarakat awam. Kami membentuk para dai dengan mengajari mereka tentang basis Islam. Mencetak dai pemula cukup dua tahun tanpa harus menunggu puluhan tahun. Kalau ditunda, ibarat sebuah perahu yang akan tenggelam,” tutur Syeikh Abdul Aziz Ridwan.

Gagasan inilah yang menjadi acuan dasar kurikulum Ponpes Wali Barokah. Sebelum menjadi santri ponpes Wali Barokah, para santri menjalani tes. Tes pertama, para santri mengikuti pembelajaran etika seorang murid. Mereka harus dibersihkan dari sifat jelek sehingga hati mereka bersih. Kalau hati mereka bersih maka di dalam perilakunya berhias sifat yang baik-baik. Ibarat orang yang akan melaksanakan ibadah salat maka harus dibersihkan dulu dengan berwudu. Begitu juga didalam mencari ilmu, sebelum menerima ilmu mereka harus bersih hatinya.

Tes Kedua, Pembelajaran ilmu pegon (menulis arab melayu). Mencari ilmu itu tidak cukup hanya di hafalkan namun harus ditulis, sehingga kalau nanti mereka lupa ilmunya bisa dibuka lagi catatan tulisannya.  Kemudian dites kemampuan baca Alquran dengan fasih dan sesuai dengan makhrad tajwidnya.

Kurikulum Ponpes Wali Barokah terbagi empat kelas tahapan. Pertama,  Kelas Lambatan, para santri didikte agar bisa memaknai (menulis) dan memahami ilmu  Alquran dan Alhadits himpunan. Kelas lambatan dilaksanakan selama enam bulan dan mereka menerima ilmu secara runut tanpa dikurangi dan tidak melebar sehingga para santri bisa memahami.

Kedua, Kelas Cepatan, setelah santri lulus di kelas lambatan santri mengikuti tahapan berikutnya yakni kelas cepatan. Materi kelas cepatan tetap sama yakni makna Alquran namun penerapannya berbeda karena membahas masalah hukum-hukum muamalah, ibadah, ahli waris dan yang lain-lain. Untuk kelas cepatan ini para santri harus mengikuti selama satu tahun.

Ketiga, Kelas Tambahan. Di kelas tambahan para santri dilatih menjadi dai yang berkarakter dan mampu memanajemen masalah perekonomian selama tiga bulan. Para santri juga dibekali wawasan kebangsaan  sehingga tidak meninggalkan budaya tanah air dan terhindar dari sikap radikal. “Kami bisa contohkan penyebaran Islam yang berada di negara Eropa. Penyebaran mereka sangat cepat tapi hilangnya juga cepat, bisa kita lihat banyak masjid-masjid di sana sekarang dijadikan museum. Yang mereka lakukan hanya ngebom sana ngebom sini, mereka berdakwah dengan cara kekerasan,” ungkap Syeikh Abdul Aziz Ridwan.   

Keempat, Kelas Ujian. para santri selama empat bulan akan menjalani masa ujian dan tes yang selama ini mereka mendapatkan ilmu di ponpes Wali Barokah. Tidak hanya di uji saja akan tetapi mereka juga dilatih kemandiriannya sehingga mereka bisa tampil secara matang di dalam masyarakat.

Setelah mereka lulus dengan runtutan tahapan kelas tersebut, mereka akan ditugaskan dan dikirim di seluruh penjuru tanah air. Mereka akan ditugaskan minimal selama satu  tahun.  Dan setiap bulannya Ponpes Wali Barokah meluluskan dai antara 400-500 orang yang akan disebar di seluruh penjuru tanah air, untuk menyebarkan dasar ilmu agama Islam.

kurikulum ponpes ldii

Setelah menyimak paparan kurikulum ponpes Wali Barokah, Kasubag Kesra Agama dan Kebudayaan Kabupaten Bima Syahrul Achmad, S. Ag, M. Hum terkagum-kagum. Menurutnya, apa yang dipaparkan pengurus Ponpes Wali Barokah yang diajarkan santrinya selama dua tahun ini sama seperti materi kuliahnya S1 selama empat tahun di salah satu Universitas di Makassar. Yang berbeda, Selama empat tahun kami tidak mendapatkan ilmu dasar-dasar agama Islam.

“Kami (para rombongan) di sini melihat secara nyata, ternyata informasi tentang LDII yang katanya sesat ternyata tidak sama seperti yang saya terima. Jauh sekali fitnah-fitnah yang diterima LDII selama ini. Saya kira itu ada kepentingan lain didalam fitnah tersebut,” ungkap Syahrul Achmad.

Hal serupa juga diungkapkan Ulama kabupaten Bima sekaligus ketua pimpinan Ponpes Al-Husainy Drs. H. Ramli Ahmad, M. AP. Menurutnya setelah mengamati kegiatan santri-santri dan manajemen Ponpes Wali Barokah rasanya menemukan suatu kebenaran yang selama ini dicarinya. “Setelah mengelilingi Ponpes Wali Barokah, saya tidak menemukan fitnah-fitnah atau statement negatif tentang LDII sampai saat ini, detik ini. LDII sesatnya dimana? Bahkan saya setelah masuk di perpustakaan Majelis Taujih Wal Irsyad semua rujukan Hadits Khutubussittah sudah jelas semua. Seharusnya saya belajar disini,” ungkap H. Ramli Ahmad.

Ketika masuk kedalam masjid, lanjut H. Ramli Ahmad, terkejut saat mau melaksanakan salat Dzuhur melihat ribuan santri duduk dengan tertib sambil membaca Alquran (seperti suara lebah) menunggu iqomah  berkumandang. “Saya rasanya berada di tengah-tengah para Malaikat,” ungkap H. Ramli Ahmad.

Sebelum meninggalkan Ponpes Wali Barokah, Drs. H. Saleh Karim berpesan bahwa oleh-oleh dari Ponpes Wali Barokah akan kami bawa pulang dan kami sampaikan ke masyarakat Bima untuk mengklarifikasi ini semua tentang LDII.  (Sofyan Gani)

Rombongan Ulama dan Tokoh Masyarakat Bima :

Drs. H. M. Saleh Karim (Kepala Kantor Kemenag Kab. Bima); Syahrul Achmad, S. Ag, M. (Kasubag Kesra Agama dan Kebudayaan Kab. Bima); Drs. H. Ramli Ahmad, M. AP. (Ulama dan Ketua Pimpinan Ponpes Al-Husainy Kab. Bima); Syech Fathurrahman, S. Ag., MH. (Sekretaris FKUB Kab. Bima); Drs. H. Bahnan (Sekretaris MUI Kab. Bima); Drs. Mahmud, SH. (Ulama dan Tokoh Agama Kab. Bima); Ustad Muhdar (Ulama dan Tokoh Agama Kab. Bima); Landa Abdullah (Pimpinan Ponpes dan Tokoh Agama Kab. Bima); Sutarman, SE (Ulama dan Tokoh Agama Kab. Bima); H. Abdul Salam (Ulama dan Tokoh Agama Kab. Bima).

source:ldii.co.id

Perkemahan ala Mandiri Terampil (Mantap) 2015

Pramuka LDII menggelar perkemahan saat tahun baru. Selain untuk mencegah pemuda-pemudi berhura-hura dan jauh dari nilai-nilai Islam, acara ini bertujuan untuk mendidik para remaja agar memiliki akhlak yang luhur, memiliki kepahaman agama yang kuat, dan mandiri.

IMG_9913
“Lu lu, gue gue, saling perhatiannya gak ada. Itu bukan sifat umat Islam dan Pramuka,” itu yang dikatakan Majelis Pembina Gugus Depan (Mabigus) 0283/0284 Pangkalan Sultan Agung, Kota Bekasi, Ir. H. Arief Wahyudi, M.M, saat membuka nasehat pada Perkemah Mantap 2015. Menurutnya, Pramuka sebagai wadah unik yang mengajarkan untuk bertahan hidup dan membentuk karakter dengan berbagai permainan. Mereka dibentuk karakternya agar memiliki empati terhadap sesama manusia. “Pramuka ini unik, Saya lihat melalui kegiatannya, mereka dilatih untuk rukun, kompak, kerja sama yang baik kemudian mereka dilatih supaya mempunyai empati kepada yang lain.”

Dengan tema Mantap (Mandiri dan Terampil), acara Kemah Besar Sako Sekawan Persada Nusantara Cabang Kota Bekasi Gugus Depan 0283/0284 Pangkalan Sultan Agung dihadiri Kakak Kwartir Ranting Kota Bekasi mengisi pergantian tahun di Stadion Muda Jaya, Bekasi. Sebanyak 230 Penggalang dari sembilan Sanggar Madya dilatih untuk bertahan hidup semalam, melalui teknik kepramukaan dan permainan-permainan yang membuat para penggalang tetap senang.

jokam keren mandiriPara penggalang dilatih untuk bisa memasak, bangun pagi dan berolahraga, budaya antri ketika menunggu mandi, dan kemudian bermain permainan ketangkasan dan kekompakkan. Kakak-kakak Pembina mengajak para penggalang bermain lomba makan kerupuk secara beregu. Di mana penggalang harus secara bergantian menghabiskan kerupuk yang dapat melatih rasa berbagi dan tolong-menolong pada sesame anggota regu. Kemudian para penggalang diajak untuk membawa segelas air dengan tali secara bersama-sama. Ini dilakukan untuk melatih kekompakkan dan sikap kepemimpinan dalam dinamika regu. Kakak Pembina Gudep Sultan Agung, M. Syukur Asjari berharap penggalang memiliki kemandirian dan saling kenal antara para penggalang melalui pembuatan regu acak. “Kami latih mereka untuk memasak dan untuk membangun kebersamaan agar mereka bisa mengenal satu sama lain,” ujar M. Syukur.

Para penggalang di usia belia masih banyak yang bergantung kepada orangtuanya. Dengan perkemahan ini, para kakak pembina berharap saat kembali kepada orangtua mereka, terdapat perubahan. Untuk itu dalam kepramukaan mereka dilatih untuk memiliki sikap dan mental mandiri. “Paling tidak, umpama kemandirian yang sebenarnya belum tercapai, belum terlaksana, sikap mandirinya sudah didapat dari pramuka,” ujar Arief menjelaskan. Selain itu menurut Arief, pramuka harus selalu riang gembira bagaimanapun keadaanya. Salah satu caranya, dengan membuat permainan untuk menciptakan kondisi riang, sesuai dengan lagunya di sini senang dan di sana senang, untuk menumbuhkan kemauan dan kemampuan inovatif dan kreatif. Salah satu contohnya adalah kegiatan kemandirian seperti pembuatan bir pletok — minuman dari gula merah dan jahe, biasa dicampur es — khas bekasi dan pelatihan-pelatihan lainnya sudah dilaksanakan di Sakocab SPN Kota Bekasi.

pramuka ldii, generus lemkariArief mengharapkan pembinaan melalui kepramukaan dapat terus berlanjut dan berkesinambungan. Dari hampir 3000 generasi penerus yang ada di Sakocab SPN Kota Bekasi, sebagian mereka bergantian dan bertahap dibina melalui kegiatan kepramukaan dari tahun ke tahun secara berkesinambungan. “Maka regenerasi akan kami lakukan dari tahun ke tahun.”  Pramuka, sejak usia belia sudah dilatih sikap dan mental untuk bisa mandiri dan berempati, jadi tidak hanya mandiri untuk dirinya sendiri, tetapi juga dapat membantu lingkungan di sekitarnya. (Reza/Lines)

source:ldii.or.id

Presiden Joko Widodo Dukung LDII Bangun SDM dan Ekonomi Syariah

Jakarta (8/1). Jajaran pengurus DPP LDII menemui Presiden Joko Widodo di istana negara pada Kamis (8/1). Dalam pertemuan tersebut Joko Widodo mendukung program kerja LDII yang ingin membangun SDM yang profesional religius dan penguatan ekonomi kerakyatan.

Pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan DPP LDII merupakan wujud kemitraan antara ormas dengan pemerintah dalam konsep masyarakat madani. Dalam pola ini, ormas dan ormas Islam di Indonesia, membantu berbagai program pemerintah yang tak dapat menjangkau seluruh masyarakat Indonesia. Hal yang tak dapat dijangkau pemerintah itulah yang diisi oleh ormas, semisal dalam pendidikan, pembentukan karakter bangsa, kesehatan, ekonomi, dan berbagai bidang lainnya.

Dalam pertemuan itu, Presiden Joko Widodo menyampaikan beberapa hal terkait apa yang sudah dilakukan DPP LDII, antara lain mengenai ICT, SDM profesional religius, deradikalisasi, pembentukan karakter bangsa, dan lembaga keuangan syariah. Presiden Joko Widodo mengakui negara-negara tetangga khawatir terhadap kemampuan SDM Indonesia. “Mereka khawatir bila bangsa Indonesia menguasai pasar negara lain di Asia. Contohnya saja, saat ini pengusaha Indonesia sukses mendirikan peternakan di Myanmar,” ujar Joko Widodo.

Menurut presiden yang akrab disapa Jokowi ini, apa yang telah dilakukan oleh LDII akan memperkuat posisi bangsa Indonesia, di tengah dinamika politik dan ekonomi global. Bila bangsa Indonesia makmur, karakternya kuat, dan religius, maka negara Indonesia pun menjadi kuat. Inilah yang membuat bangsa Indonesia ditakuti oleh bangsa lain. Apalagi Indonesia akan menyambut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), di mana perputaran barang dan jasa dikurangi hambatannya oleh masing-masing anggotanya. Tentunya pemerintah membutuhkan bantuan seluruh elemen masyarakat, termasuk LDII, untuk meningkatkan daya saing dan kualitas SDM.

Presiden Joko Widodo juga senang LDII berperan aktif dalam deradikalisasi umat Islam. LDII telah bekerja sama dengan PBNU, melakukan dakwah yang menyejukkan dan menolak radikalisme. Dalam pelatihan juru dakwah, LDII bekerja sama dengan MUI, PBNU, dan universitas Islam lainnya untuk menyajikan dakwah yang penuh toleransi, agar kehidupan beragama masyarakat kian kondusif. Dengan demikian bibit radikalisme sulit tumbuh, sebagaimana ISIS di Timur Tengah.

Terkait fenomena Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), ideologi Islam radikal tidak sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia yang majemuk. Meskipun mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam, namun Indonesia bukan negara Islam. “Indonesia juga diajak oleh negara-negara Islam lainnya untuk memerangi ISIS, tapi konstitusi negara kita melarang Indonesia ikut ambil perrang di negara lain,” ujar Joko Widodo. Indonesia selalu mendukung dan berperan aktif dalam perdamaian dunia, sebagaimana amanat pembukaan UUD 1945.

Sementara itu, di bidang Information Communication Technology (ICT), Presiden Joko Widodo mendukung langkah LDII yang telah memulai Gerakan Internet Sehat (GIS) sejak 2008. GIS LDII bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi, yang dikerjakan oleh LDII mulai tingkat nasional hingga tingkat kabupaten/kota. Gerakan ini menurut Joko Widodo mampu menyelamatkan akhlak bangsa, dari pornografi. Mencegah industri pornografi hanya bisa dilakukan dengan dakwah dan gerakan penggunaan internet secara sehat. “Saya hanya menyayangkan, situs-situs besar milik bangsa Indonesia malah dibeli investor asing, sehingga situs atau toko online itu seperti kehilangan nasionalismenya,” ujar Joko Widodo.

Joko Widodo dalam kesempatan itu mendukung program kerja LDII, dan mempersilakan bekerja sama dengan kementerian Kabinet Kerja, sesuai dengan bidangnya. Ia menekankan juga kerja sama antar ormas Islam dan pemerintah merupakan penguatan demokrasi, “Islam dan demokrasi di Indonesia menjadi role model negara-negara dunia. Dengan jumlah penduduk beragama Islam terbesar di dunia, namun mampu menjalan demokrasi,” papar Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo pada akhir pertemuan itu menyanggupi permintaan DPP LDII untuk hadir dalam seminar lembaga keuangan ekonomi syariah, dalam penguatan ekonomi syariah. Ia mendukung gerakan ekonomi syariah, karena sistem ekonomi syariah adalah bentuk hubungan ekonomi yang paling adil dibanding sistem ekonomi lainnya, baik untuk usaha maupun perdagangan.

Sementara itu usai bertemu dengan presiden, Ketua Umum DPP LDII Prof Dr KH Abdullah Syam, M.Sc menyatakan pembicaraan dengan Presiden Jokowi terfokus pada persoalan sumber daya manusia (SDM). “Baik melalui pendidikan formal maupun nonformal, diklat-diklat. Dan itu dikerjasamakan tidak hanya LDII sendiri, tapi dengan ormas Islam lainnya, dan dengan instansi pemerintah terkait,” kata Abdullah.

Dia mencontohkan soal internet sehat. LDII bekerja sama dengan Kementerian Kominfo untuk membangun masyarakat yang menggunakan internet secara sehat. “Itu salah satu bagian dari peningkatan kualitas SDM,” katanya. Kedua, lanjut dia, dibicarakan juga dalam menghadapi masyarakat ekonomi Asean (MEA) 2015. Dia mengaku, LDII sudah menyiapkan SDM untuk bisa bertahan dalam MEA itu. “Tentang itu kita persiapkan ke arah sana tapi bangun dulu persepsi. Misalnya melalui seminar, tingkat Asean,” katanya.

LDII juga kata Abdullah, meminta Presiden Jokowi untuk membuka seminar soal ekonomi syariah pada September nanti.  Abdullah mengaku, ekonomi syariah ini bukan saja masalah Islam. Dia mengaku sudah bertemu dengan tokoh-tokoh agama lain, yang juga menyatakan bahwa konsep syariah ini yang adil karena menguntungkan semuanya. Dia mengatakan, seminar itu terkait penguatan ekonomi syariah. “Karena hal ini juga dilaporkan pada bapak presiden, masalah ekonomi syariah bukan atribut Islam. Tapi atribut semua agama,” katanya. (Eko/Ied/Riyan/LINES)

Agar Kehidupan Beragama Terlindungi

Meskipun dikenal sebagai negara yang penuh toleransi, Indonesia masih memiliki PR besar berupa kekerasan antar umat beragama.

Kekerasan antarpemeluk agama, terutama antara kelompok mayoritas minoritas, masih menjadi ancaman. Menurut data dari Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, dari 2.392 kasus kekerasan yang terjadi, sebanyak 65 persen atau 1.554 kasus di antaranya berawal dari isu agama. Untuk itu negara perlu hadir untuk melindungi kehidupan antar umat beragama, sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945.

Perlindungan umat beragama menjadi fokus kerja Pemerintahan Jokowi-JK, sehingga pemerintah perlu menggagas undang-undang yang dapat melindungi kehidupan beragama. Inisiatif ini diambil oleh Kementerian Agama dengan mengadakan seminar mengenai RUU Perlindungan Umat Beragama. Acara ini menghadirkan beberapa narasumber seperti Saleh Partomoan Daulay, Ketua KomisiVIII DPR RI, Hafid Abbas sebagi ketua Komnas HAM, Romo Benny Susetyo dari Setara Institue, dan KH Hasyim Muzadi, Sekjen International Conference of Islamic Scholar (ICIS). Acara itu menghadirkan Luqman Hakim Saifuddin Menteri Agama sebagai keynote speaker membuka acara.

ldii baik, kebaikan ldii

Luqman Hakim mengakui kehidupan beragama di Indonesia relatif baik, namun memiliki beberapa catatan agar kualitas kehidupan beragama di Indonesia kian kondusif. “Ada pihak yang terabaikan oleh negara terkait ibadah. Tidak pas-nya regulasi dan relasi sosial yang sesuai dengan pembukaan UUD 1945. Pemerintah ada untuk melindungi keyakinan umat beragama. Pemerintah harus melayani umat beragama yang beragam seperti memfasilitasi, pemberdayaan, dan pengaturan. Umat bergama juga harus mau diatur,” ujar Luqman Hakim.

Dalam seminar itu, Luqman Hakim menekankan beberapa poin penting, antara lain; pertama, hak-hak penganut agama di luar agama yang diakui belum terfasilitasi dengan semestinya. Kedua kasus pendirian rumah ibadah bagi sebagian besar masyarakat belum tersosialisasi dengan baik. Ketiga isu penyebaran dakwah yang semakin marak dan meningkat namun berisi materi yang menimbulkan gesekan antar masyarakat. Keempat maraknya kekerasan terhadap minoritas. Dan terakhir semakin meningkatnya intoleransi yang berpangkal pada pemahaman yang sempit.

Kekerasan umat beragama terjadi karena hukum yang ada tidak berfungsi akibat tumpang tindih dan miskoordinasi. RUU Perlindungan Beragama memiliki ruang untuk memproteksi umat beragama untuk beribadah. Negara sebagai penengah tidak boleh berpihak pada salah satu atau beberapa agama, tanpa memperhatikan keadilan terhadap agama lain. “Dalam pasal 29 ayat 1 UUD 1945 disebutkan bahwa negara menjamin kebebasan beragama bagi masyarakatnya,” tegas Luqman yang juga pernah menjabat menteri agama di era SBY itu

Sementara itu Hafid Abbas menyatakan kontrak sosial sebagai basis pemikiran bahwa rakyat memiliki hak yang banyak. Namun aparatur negara mempunyai kewenangnan banyak namun hak yang terbatas. Kewenangan yang banyak menyebabkan kewajiban bertambah. Pembatasan hanya boleh dilakukan untuk beberapa hal untuk melindungi ketertiban umum.

RUU Perlindungan Agama akan menimbulkan banyak polemik yang harus diantisipasi. Satu warga negara pun tidak boleh diabaikan. RUU ini tidak boleh memarjinalkan kelompok-kelompok tertentu. Dalam konteks pemahaman dan perlindungan umat beragama tentu memiliki kacamata yang berbeda, “Mayoritas dan minoritas tak perlu ada dalam konteks pemahaman agama. Namun dalam konteks pelayanan mayoritas dan minoritas merupakan hal yang penting, yang mayoritas banyak kebutuhannya,” ujar Saleh Partomoan

Sebagai negara demokrasi yang berdasarkan konstitusi dan empat pilar kebangsaan, segala keputusan demokrasi harus diputuskan dengan cara demokrasi. Dalam menyebarkan agama atau berdakwah tidak boleh dengan cara melakukan pemaksaan dan pembodohan, apalagi dilakukan secara terselubung serta dengan kekerasan.

LDII memiliki organiasi dan keagamaan yang baik,” ujar Saleh Partomoan

“Indonesia terdiri dari berbagai macam umat layaknya pasar bebas. Siapa yang pandai jualan, akan mendapatkan umat yang banyak, saya ingin belajar militansi dari LDII. LDII memiliki militansi yang tinggi, akan tetapi justru dapat berkontribusi positif bagi bangsa Indonesia. LDII memiliki organiasi dan keagamaan yang baik,” ujar Saleh Partomoan. Sebagaimana yang diungkapkan Saleh Partomoan, dakwah harus dengan rasional, humanisme, akal sehat, dan santun. Ia menganjurkan intropeksi diri sehingga masyarakat dapat kembali ke jalan yang benar.

DSC_0450“Agama harus membuahkan persatuan, karena setiap agama punya universalisme agama atau amalan agama yang berlaku untuk semua makhluk di dunia. Kita harus menghindari transnasional agama yang merupakan kondisi politik agama dalam suatu negara yang belum tentu cocok jika dipindahkan kenegara lain. Hal ini dapat menciptakan ancamaman bagi keutuhan NKRI,” ujar Hasyim Muzadi.

Menurut Hasyim, setiap agama memiliki kesamaan dan perbedaan. Sama-sama menawarkan kebaikan, perbedaannya hanya terletak pada ritual. “Yang beda jangan dipaksakan sama, yang sama jangan sekali-kali dibedakan. Ini merupakan persatuan fisiologis bukan teologis,” ujar Hasyim. Pemikiran dalam agama apapun harus diperlakukan sama dalam kehidupan NKRI. Jadi kekerasan atas nama agama hendaknya tidak dijadikan justifikasi untuk menindas kaum lain, sebagai satu kesatuan masyarakat Republik Indonesia. (Khoir/Reza/LINES)

Source:ldii.or.id

LDII Meminta Masyarakat Waspadai Pornografi di Internet

Internet mulanya digunakan sebagai media komunikasi. Namun, lambat laun internet digunakan untuk penyebaran pornografi. Ironinya, pornografi bukan hanya dinikmati orang dewasa, anak-anak dan remaja juga memanfaatkan internet untuk melihat pornografi.

Dirjen Aplikasi dan Telematika Kemenkominfo Bambang Heru Tjahjono menyayangkan masyarakat juga mulai mengunggah pornografi. Padahal, sesuatu yang sudah diunggah tidak bisa dihapus sama sekali, bahkan di masa yang akan datang. Masyarakat kian rentan terpapar pornografi, karena Indonesia belum memiliki lembaga sertifikasi keamanan data yang dapat menjamin keamanan data, sehingga rentan dengan peretas.

Bambang mengungkapkan pornografi merupakan isu utama dan serius, yang harus menjadi perhatian seluruh dunia, karena industri pornografi telah menjadi industri. Menurut data Majalah Forbes, industri pornografi US$ 14 miliar per tahun. “Untuk membendung pornografi perlu ketegasan dan komitmen bersama,” tegas Bambang. Orangtua berperan dalam membentuk moral anak untuk menghindarkan anak dari paparan pornografi, sedangkan pemerintah berperan dari segi regulasi dan penegakan hukum.

Kemenkominfo juga bekerja sama dengan berbagai LSM dan ormas dalam penanggulangan pornografi di internet. Salah satunya dengan LDII, yang telah bekerja sama dengan Kemenkominfo untuk menggelar Gerakan Internet Sehat sejak 2008. Salah satu wujudnya adalah melakukan kampanye, pelatihan, dan seminar atau lokakarya. Pada Senin (29/12), DPP LDII bekerja sama dengan Kemenkominfo dan MUI menggelar lokakarya Gerakan Internet Sehat: Penganggulangan Penyalahgunaan ICT untuk Pornografi.

Fidelis Waruwu, Direktur Education Training & Consulting dan Staff Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara sebagai salah satu pembicara, mengingatkan pemerintah dapat menetapkan pembatasan aturan, namun batasan tidak banyak manfaat jika tidak ada cara positif untuk menyalurkan energi generasi muda. Menurut Fidelis pornografi menjadi fenomena yang mempengaruhi kehidupan dan berdampak pada generasi muda. “Untuk mencegahnya perlu gerakan bersama antara orangtua, pendidik, dan seluruh tokoh masyarakat,” ujar Fidelis.

Penyadaran ini dapat dilakukan dengan memposisikan generasi muda merasa aman, bernilai, berharga, dan dipahami baik dari orangtua maupun guru. Sedapat mungkin menghilangkan peluang-peluang terciptanya akses konten pornografi dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat yang mengembangkan kepribadian anak dan membantu penemuan identitas anak.

Tokoh-tokoh masyarakat serta tokoh agama pun dinilai turut berperan menanggulangi pornografi. Contohnya, menyaring hal-hal yang berbau pornografi, sehingga saat portal internet dibuka, tidak menampilkan gambar porno tersebut. Diharapkan, ormas-ormas termasuk ormas Islam dapat bekerja sama dengan KPI melakukan teguran terhadap tayangan-tayangan berbau pornografi.

Aris Sabam Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (PA) mendukung langkah LDII. Menurutnya, membendung industri pornografi sangat sulit. Maka, melindungi anak dari paparan pornografi adalah sangat penting. LDII sebagai lembaga dakwah memiliki peran strategi, untuk membangun karakter dan moral anak sehingga mereka menjauh dari pornografi.

Tokoh-tokoh masyarakat serta tokoh agama pun dinilai turut berperan menanggulangi pornografi. Contohnya, menyaring hal-hal yang berbau pornografi, sehingga saat portal internet dibuka, tidak menampilkan gambar porno tersebut. Diharapkan, ormas-ormas termasuk ormas Islam dapat bekerjasama dengan Komisi Penyiaran Indonesia(KPI) melakukan teguran terhadap tayangan-tayangan berbau pornografi.

Tingginya masalah pornorgrafi dan menyasar ke anak-anak perlu ditangani dengan tim-tim tertentu. Pornografi menjadi adiksi dan akhirnya permisif, mencari korban penyaluran. Seperti contoh dari games bagi anak penting, namun bagaimana membuat games yang edukatif dan interaktif untuk anak. Terutama dalam hal pemahaman pornografi. Jangan sampai warnet menjadi sarana yang nyaman bagi anak untuk mengakses konten pornografi ataupun mencari tahu tentang pornografi.

Realitanya, pengakses pornografi ada 45 juta di Indonesia dari 8,5 juta pengguna internet. Indonesia darurat sejak 4 tahun terakhir karena lebih dari 45% terjadi kejahatan seksual. Terutama kejahatan seksual terhadap anak. Aris Merdeka Sirait dari KPAI menyampaikan anak berhak dilindungi dari segala eksploitasi dan penganiayaan, yang kedua, hak anak merupakan hak asasi manusia yang tak bisa dipisahkan.
Namun ironisnya, kejahatan seksual justru terjadi didalam rumah. Di mana 82% berasal dari keluarga menengah ke bawah. 10 dari kejahatan seksual, enam diantaranya adalah incest. Kejahatan ini termasuk dalam catatan Pusdatin Komnas Anak yaitu, sebanyak 21.689.797 kasus pelanggaran hak anak yang tersebar di 34 provinsi dan di 179 kabupaten kota. Merajalelanya pengaruh tontonan pornografi dan pornoaksi, runtuhnya ketahanan keluarga atas nilai agama, sosial, etika moral serta degradasi nilai solidaritas dan pengaruh gaya hidup yang tidak diimbangi dengan kemampuan ekonomi, menjadi penyebab kejahatan seksual.

Ditambah lagi, keberpihakan kepada anak dalam penegakan hukum atas kasus kejahatan seksual belum mencerminkan keadilan. Sehingga pelaku kejahatan masih bebas mengulangi perbuatannya. Pelaku kejahatan seksual tidak hanya orang dewasa, Komnas Anak menemukan sekitar 237 kasus dengan anak dibawah 14 tahun sebagai pelakunya. Ini disebabkan anak yang sudah kecanduan pornografi. Komnas Anak melakukan penelitian dari 2.016 anak kelas 4, 5 dan 6 SD di Jabodetabek dalam kurun 2012-2013 ditemukan 67% anak kecanduan pornografi. Dengan 22% melihat dari situs internet dan hiburan rakyat, 17% dari games, 12% melalui televisi dan 6% dari telepon genggam.

Lantas, bagaimana melindungi anak dari pornografi? Aris memaparkan, penerapan regulasi dengan ketat mengenai pelarangan situs bermuatan pornografi, memastikan program internet sehat masuk desa, pemblokiran situs pornografi dan situs porno anak, membuat layanan masyarakat kreatif dan aktif untuk berkampanye tentang pornografi, serta edukasi kepada orang dewasa tentang internet sehat, merupakan cara yang dapat dilakukan untuk melindungi anak dari pornografi. “Indonesia hebat adalah Indonesia yang berhasil memblokir pornografi,” tandas Aris.

ketua dpp ldii

Sementara itu Ketua DPP LDII Chriswanto Santoso meminta masyarakat, terutama kepada orangtua, agar lebih mengawasi anak-anak mereka. Terutama mengajarkan mereka mengenai nilai-nilai luhur, dengan memberikan pendidikan seks sejak dini. “Memisahkan tidur antara anak laki-laki dan perempuan, melarang mereka mandi bersama, merupakan contoh yang dilakukan Rasulullah agar anak bisa menjaga diri sejak dini,” papar Chriswanto.

Dengan perkembangan teknologi, Chriswanto meminta kepada orangtua untuk lebih dekat kepada anak. Membuka ruang komunikasi yang lebih lebar, sehingga mereka tidak mengandalkan internet untuk curhat, sehingga secara tak langsung menghindarkan anak-anak dari bahaya pornografi di internet. (Noni/LINES)

source:ldii.or.id