Ngadmin

Hari Gizi Nasional, Ketum LDII: Pentingnya Ketahanan Keluarga dalam Edukasi Gizi

Jakarta (25/1). Hari gizi nasional menemukan momentumnya pada tahun ini. Di saat wabah virus corona melanda dunia, Indonesia perlu kembali membenahi hal yang mendasar dalam berbangsa dan bernegara, yakni memajukan kesejahteraan umum.

“Tujuan bernegara dan berbangsa sangat jelas dalam Pembukaan UUD 1945 yakni memajukan kesejahteraan umum, kini bangsa Indonesia sedang diuji dengan wabah. Ini mengingatkan pentingnya ketahanan keluarga, salah satunya edukasi mengenai gizi,” papar Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso.

Bukti keseriusan pemerintah dan masyarakat perihal gizi, menurut Chriswanto pada 1984 pemerintah mencanangkan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), lalu diteguhkan kembali oleh pemerintah pada 1986. Bahkan pada 2001, ditegaskan kembali dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah pada 13 Juni 2001. 

“Sayangnya, Posyandu sudah tak populer dulu lagi, padahal dulu banyak sukarelawan kesehatan Posyandu. Mereka memberikan penyuluhan kesehatan ibu dan anak, melayani vaksinasi, hingga deteksi dini kasus-kasus malagizi dan kekurangan gizi pada bayi dan balita,” ujar Chriswanto.

Ketika Posyandu tak lagi populer, menurut Chriswanto salah satu tools untuk edukasi kesehatan kepada masyarakat yang paling bawah turut hilang pula. Padahal edukasi gizi tersebut sangat penting, “Dengan edukasi gizi, masyarakat menjadi tahu makanan yang bergizi tak harus mahal. Selain protein hewani terdapat protein nabati yang relatif terjangkau,” imbuhnya. Di sini pula pentingnya interaksi antara para ibu dan penyuluh kesehatan, yang dulunya terdapat di Posyandu.

Melihat strategisnya posisi ibu dalam ketahanan gizi keluarga, menurut Chriswanto, sejak 1997 pihaknya telah rutin menggelar seminar wanita untuk pemberdayaan perempuan, “Manajemen rumah tangga dan edukasi mengenai kesehatan serta gizi selalu menjadi bahasan utama,” imbuhnya.

Sejalan dengan Hari Gizi Nasional, Chriswanto mengingatkan saat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami lompatan sejak era reformasi, kasus stunting dan malagizi masih tinggi, “Bila mengutip standar WHO, prevalensi stunting di bawah 20 persen, sementara data Kementerian Kesehatan pada 2019, kasus stunting nasional mencapai 27,67 persen,” ujarnya. 

Menurutnya, kasus kekurangan gizi atau pemahaman gizi yang rendah, menjadi ujian besar saat wabah Covid-19 menyerang secara global. Dengan APBN yang semakin meningkat seharusnya standar gizi dan kesehatan masyarakat turut meningkat. 

Senada dengan Chriswanto, Anggota DPR dari Fraksi Golkar, Singgih Januratmoko mengingatkan pemahaman gizi yang baik, turut mendorong peningkatan imun masyrakat, “Pemerintah telah mengkampanyekan konsumsi minimal dua butir telur sehari untuk meningkatkan imun selama pandemi,” ujar Singgih.

Kebijakan tersebut ditunjang dengan terjangkaunya harga telur, “Bahkan harga daging ayam juga kian terjangkau sebagai sumber protein hewani. Namun bila kesadaran mengenai gizi rendah, protein hewani yang kian terjangkau itu menjadi tak berarti,” imbuhnya. 

Kebijakan pemerintah tersebut, juga turut menggerakkan ekonomi, terutama pada bidang peternakan unggas rakyat, “Saat ini ada 15 juta orang menggantungkan hidupnya pada bisnis peternakan unggas,” ujar Singgih yang juga Ketua DPP Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar). 

Singgih mengatakan, isu utama memerangi wabah, saat ini adalah keberadaan vaksin Covid-19. Namun jumlah vaksin global masih rendah, sementara permintaan tinggi, “Yang bisa dilakukan pemerintah saat ini mengimpor vaksin sembari berupaya membuat vaksin di dalam negeri,” ujarnya. 

Antara kecukupan vaksin dan permintaan yang tak imbang itu, menurut Singgih, langkah yang realistis saat ini bergantung kepada efektifitas program tes, telusur, isolasi, dan karantina yang ditunjang strategi 5M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, membatasi mobilisasi, menjauhi kerumunan). Selain 5 M itu, masyarakat harus mulai mengkonsumsi gizi yang seimbang.

Baik Chriswanto dan Singgih mengingatkan, memerangi wabah, salah satunya dengan meningkatkan gizi dan imun. Untuk itu, pemahaman yang baik mengenai makanan bergizi sangat diperlukan, “Dan itu menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk Ormas Islam,” pungkas Chriswanto.

Editor : ZFR Lines

Essai: Hikmah

Perubahan adalah keniscayaan. Banyak yang belum menyadari, bahwa setiap hari kita menjalani hari yang berbeda, walau dengan nama dan atribut yang sama. Hari terus berubah, dari kemarin menjadi sekarang, selanjutnya sekarang menuju besok. Acap tidak disadari, karena banyak hal yang mewarnai. Bahkan kadang melenakan. Menipu. Tau – tau usia sudah berapa dan badan menua. Dari hari lahirlah minggu, kemudian muncul bulan dan terkumpul dalam tahun. Dari tahun lahir windu, juga ada yang jauh disebut abad. Karenanya, Sang Guru Bijak sering mengingatkan, yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana kita bersikap menghadapi perubahan; sabar-mengalir atau justru berontak-menolak.

Kisah yang diriwayatkan Imam Bukhary ini, semoga menambah cakrawala dalam menghadapi perubahan yang datang bersama putaran zaman. Segala sesuatu memang tidak semuanya seperti yang kita harapkan. Walaupun sudah diusahakan. Namun percayalah, ada cara indah untuk menghadapinya. Yaitu sabar, sebagai kuncinya. Ingatlah warisan tua indah ini.

عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِىٍّ قَالَ أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنَ الْحَجَّاجِ فَقَالَ « اصْبِرُوا ، فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِى عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِى بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ » . سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ – صلى الله عليه وسلم –

Dari Az Zubair bin ‘Adiy, ia berkata, “Kami pernah mendatangi Anas bin Malik. Kami mengadukan tentang Al-Hajjaj pada beliau. Anas pun mengatakan, “Sabarlah, karena tidaklah datang suatu zaman melainkan keadaan setelahnya lebih jelek dari sebelumnya sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian. Aku mendengar wasiat ini dari Nabi kalian.” (Rowahul Bukhary)

Bagi sebagian orang, karena tidak bisa dihindari, ada yang memperlakukan perubahan sebagai cobaan. Hasilnya, lebih siap dan lebih memahami arti perubahan beserta konsekuensinya. Hal ini sejalan dengan firman indah Allah dalam Kitabnya.

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُون

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (Al-Baqoroh 155 – 156).

Prijosaksono dalam Create Your Own Cheese menginspirasi untuk menyiasati perubahan, kemudian menikmati indahnya perubahan tersebut. Bahkan memberi motivasi dengan kemampuan untuk menciptakan realitas baru seperti yang manusia inginkan dari setiap episode perubahan. Caranya? Dengan mengatasi ketakutan sebagai jawaban atas ayat 155 di atas. Ketika kita mengalami krisis atau perubahan, satu hal yang kita takutkan adalah ketidakpastian. Namun, yang pasti adalah kita tidak akan keluar dari krisis jika kita tetap diam. Maka kita harus tetap bergerak. Ketika mulai melangkah, kita harus yakin bahwa ada harapan di depan sana. Jika kita sudah tidak punya pengharapan dan akhirnya tidak melakukan apa-apa, sama artinya kita sudah gagal dan mati. Dan untuk hasil yang menakjubkan, ingatlah selalu untuk bergerak dengan penuh kesabaran. Seperti dilukiskan dalam dialog berikut ini.

Seorang pemuda datang tergopoh-gopoh kepada Sang Guru Bijak dan bertanya, “Kira-kira saya membutuhkan berapa waktu untuk memperoleh penerangan batin (hikmah)?”

Sang Guru Bijak itu menjawab, “Sepuluh tahun.”

Pemuda  itu  terkejut.  “Begitu  lamakah?”  tanyanya tidak percaya.

Sang Guru Bijak menerangkan, “Tidak, saya keliru. Engkau  membutuhkan dua puluh tahun.”

Orang muda itu bertanya, “Mengapa Guru lipatkan dua?”

Sang Guru Bijak itu berkata, “Coba pikirkan, dalam hal ini mungkin engkau membutuhkan tiga puluh tahun.”

Kebanyakan orang tidak pernah belajar sesuatu, karena mereka menggenggam  segala  sesuatu terlalu cepat.  Bahkan banyak insan tidak pernah faham karena memperoleh sesuatunya terlalu mudah dan gampang. Kebijaksanaan bukanlah suatu titik sampai akan tetapi suatu cara berjalan. Hikmah bukanlah sekedar mengerti kata dan tanda penunjuk jalan. Hikmah adalah proses menikmati keindahan dan kesempurnaan dibalik kata dan tanda. Oleh karenanya, janganlah berjalan  terlalu  cepat. Berjalanlah dengan penuh kesabaran dan kewaspadaan. Seiring waktu, sesuai tujuan. Sebab, kala engkau berjalan terlalu cepat,  engkau tidak akan melihat pemandangan yang indah. Dan lepaslah semua hikmah.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (menyambunglah) dan bertakwalah kalian kepada Allah, supaya kalian beruntung.” (QS Ali Imran: 200).

 

::

Penulis: Faizunal A. Abdillah
Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.

Ilustrasi: Ihsan

LDII dan Senkom Sulawesi Tengah, Bantu Korban Gempa Sulawesi Barat

Palu – (16/01/2021), Bencana gempa yang terjadi di Sulawesi Barat tepatnya di Mamuju, Majene dan sekitarnya menyebabkan duka yang mendalam bagi masyarakat Sulawesi Tengah. Dampak dari peristiwa tersebut, memakan korban jiwa berjatuhan maupun kerusakan infrastruktur.

Hal ini mendorong Pengurus DPW LDII Sulawesi Tengah bersama Senkom Sulawesi Tengah berpartisipasi dalam membantu warga Sulbar baik dari logistik maupun bantuan kemanusiaan.

Ketua DPW LDII Sulawesi Tengah, Agussalim Sutan Marhum, S.Pd., M.M, mengatakan bahwa pemberian bantuan ini merupakan kesepakatan kerja sama antara LDII dan Senkom dengan memberangkatkan 2 pengurus LDII dan 8 anggota Senkom.

“Mengingat ini situasi darurat untuk sementara bantuan yang akan kami kirimkan, berupa logistic berupa makanan dan obat-obatan, adapun untuk anggota Senkom akan membantu kami dalam pengawalan ke lokasi,” ujarnya.

Diketahui bahwa rombongan LDII dan Senkom berangkat dari Masjid Shirotol Mustaqim Palu pada sore hari menggunakan 3 mobil, diperkirakan rombongan akan sampai di lokasi pada malam hari dan membantu korban bencana selama 3 hari kedepan.

Ia berharap rombongan dalam perjalanan agar bisa sampai ditempat tujuan dengan selamat dan aman, tentunya bantuan juga bisa sampai kepada warga yang membutuhkan.

Editor : ZFR Lines

Ketum DPP LDII : Mengenal Toleransi dari Kisah Umar Bin Khattab

Jakarta (5/1). Bangsa Indonesia memiliki tantangan berat dalam menjaga keutuhan wilayahnya, bukan terbatas pada persoalan pertahanan dan keamanan. Tapi juga menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, di tengah keberagaman agama, budaya, dan ras, adalah tantangan bangsa Indonesia.

“Pada era modern terdapat beberapa contoh negara yang bubar karena tak bisa mempertahankan persatuan, kesatuan, dan keberagamannya, seperti Yugoslavia dan Uni Sovyet. Alhamdulillah, bangsa Indonesia memiliki Pancasila yang mampu menyatukan kebhinekaan bangsa Indonesia,” ujar Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso.

Chriswanto berpendapat sejak berdirinya negara Indonesia, para founding father menyadari potensi tersebut, “Terbukti, sejak zaman penjajahan Belanda, perbedaan tersebut dieksploitasi untuk menaklukkan nusantara. Sementara pada era Indonesia modern, tak bisa dipungkiri masih terdapat prilaku intoleransi antarpenganut agama,” kata Chriswanto.

Chriswanto mendukung moderasi beragama yang dikampanyekan Kementerian Agama sejak 2019, “Bahkan jauh sebelumnya, sejak berdirinya Kementerian Agama pada 3 Januari 1946, toleransi menjadi perhatian Menteri Agama yang pertama H. Mohammad Rasjidi,” papar Chriswanto. Toleransi penting dikembangkan agar tak ada mayoritas yang menjadi diktator dan minoritas yang menjadi tiran, pungkasnya.

Demokrasi sebagai pilihan bangsa Indonesia, saat mendirikan negara ini, menurut Chriswanto, agar semua pihak bisa terakomodir, “Demokrasi yang disepakati para pendiri bangsa, agar rakyat dapat merasakan keadilan dan tak ada penindasan satu sama lain,” ujarnya.

Chriswanto mencatat, sejak Pemilu 2014 hingga 2019, bangsa Indonesia terpolarisasi. Bahkan, residu dari pesta demokrasi masih terasa hingga kini. Untuk itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat dan penyelenggara negara memasuki 2021, untuk meningkatkan moderasi beragama, “Sikap moderat bukan berarti orang tersebut tidak kaffah dalam beragama, prilaku toleran adalah prilaku orang-orang saleh yang terdahulu. Justru karena ketakwaannya bisa memelihara kerukunan dalam bangsa yang majemuk,” paparnya.

Ia lalu mengisahkan Sayidina Umar bin Khattab saat menaklukkan Yerusalem, “Sang khalifah membiarkan para pemeluk Nasrani dan Yahudi tetap beribadah dan hak-haknya dijamin selama membayar pajak, sementara mereka yang menjadi muslim diwajibkan membayar zakat,” ujar Chriswanto. Namun, menurutnya sikap luar biasa Umar bin Khattab adalah saat Uskup Yerusalem Sophorinus, mempersilakannya salat di dalam Gereja Makam Kudus.

“Khalifah Umar menolak, dengan alasan bila ia salat di dalam gereja, dalam 100 tahun umat muslim bisa saja merobohkan gereja tersebut dan mengubahnya menjadi masjid,” imbuhnya. Khalifah Umar kemudian salat Dzuhur beberapa ratus meter dari gereja itu, dan benar saja di atas lokasi itu, kini berdiri Masjid Umar bin Khattab.

Menurut Chriswanto, apa yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab adalah bentuk toleransi. Ia tak ingin menzalimi umat Kristiani. Baginya, Gereja Makam Kudus juga harus dilestarikan agar umat Kristiani bisa tetap beribadah. Kisah keteladanan Khalifah Umar itu juga dikenang di dunia Barat, melalui buku Perang Suci: Dari Perang Salib hingga Perang Teluk (2003) karya Karen Armstrong.

Walikota Bantu Ambulance Untuk Ponpes Al Huda Bengkulu

Kota Bengkulu (05/01).  Walikota Bengkulu H. Helmi Hasan diwakili oleh Wakil Walikota (Wawali) Bengkulu Dr. Dedy Wahyudi, SE saat bersilaturahim ke Pondok Pesantren Al Huda Kota Bengkulu menyerahkan bantuan mobil ambulance dan kelengkapannya.  Pondok Pesantren yang berlokasi di Kebon Tebeng merupakan salah Ponpes yang dikelola oleh LDII Provinsi Bengkulu.  Hadir dalam kesempatan itu Ketua DPW LDII Provinsi Bengkulu H. Merry Sasdi, M.Pd dan Sesepuh Pondok Pesantren dan Pengurus Yayasan.

“Pada siang ini kami serahkan pinjam pakai kendaraan mobil ambulance ini kepada Keluarga Besar LDII Kota Bengkulu.  Kita berharap ambulance bisa membantu kegiatan bagi warga di sini dan ambulance ini konsepnya gratis jadi kami titip untuk manfaat warga ldii dan warga sekitar untuk digunakan membantu secara gratis dan juga kami akan memberikan pelatihan kepada driver Yang membawa ambulance ini. Saya banggga berada di sini di suasana keluarga LDII ini dan tidak merasa asing berada disini.” Ujar Wawali.  Penyerahan ambulance dilaksanakan di depan ratusan Siswa siswi Pondok Pesantren Al Huda.

Wakil Walikota Bengkulu, Dr.Dedy Wahyudi, SE. dalam kesempatan tersebut juga menjelaskan program program Pemerintah Kota Bengkulu.  Yang pertama menjadikan kota Bengkulu sebagai Kota yang Religius.  “Kita bersyukur memiliki Walikota yang hobinya beribadah mengajak masyarakatnya untuk memakmurkan masjid.  Bapak Helmi Hasan selalu mengajak iktikaf di masjid”.

Selain itu juga Program Peduli anak Yatim, Program Peduli anak yatim ini adalah semua Pejabat harus jadi orang tua asuh bagi anak yatim, satu pejabat minimal menjadi orang tua asuh bagi 1 anak yatim dan sekarang sudah 1000 anak yatim yang dikelola oleh Pemkot Kota Bengkulu.  Program selanjutnya adalah program jemput sakit pulang sehat yaitu jika ada orang yang sakit dan butuh bantuan maka Pemkot kota Bengkulu siap untuk membantu.  Adapun dananya adalah dari Baznaz kota Bengkulu.  Selain itu juga ada Program Bedah Rumah dan Program Peduli Janda.

 

Dalam sambutanya, Ketua DPW LDII Provinsi Bengkulu H. Merry Sasdi, M.Pd., menyampaikan ribuan terimakasih kepada Walikota Bengkulu Helmi Hasan dan Wakil Walikota Dr.Dedy Wahyudi beserta rombongan yang telah berkesempatan untuk bersilaturahmi dan membantu kelancaran kegiatan Pondok Pesantren tersebut.  “Kita doakan kepada Beliau tetap sehat dalam memimpin kota Bengkulu” ujar Merry.

Merry menambahkan bahwa pondok pesantren dalam kegiatan keagamaan dan kegiatan sosial sering terkendala mobilisasi.  Disampaikan juga, bahwa LDII adalah organisasi kemasyarakatan Islam yang sama kedudukannya dengan Nahdatul Ulama (NU) Dan Muhamdiyah serta berlandaskan Al Quran dan Al hadits.  “Amanah ambulance ini kita akan jaga bukan hanya untuk kegiatan pondok saja tetapi untuk lingkungan sekitar” tambah Merry. (RB)