Ngadmin

Kepala Kesbangpol Sulteng : LDII salah satu ormas yang paling taat Pemerintah

Palu (12/3). Menjelang Munas IX ldii. Jajaran pengurus DPW LDII Sulteng melakukan silaturahim ke Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Daerah Sulteng di Jalan Tanjung Api no 7, Kota Palu, pada Jumat (9/3/2021). Rombongan LDII tiba di kantor Kesbangpol sekitar pukul 14.30 WITA.

Ketua DPW LDII Sulteng, Agussalim Sutan Marhum, S.Pd., M.M. memaparkan Munas IX LDII, yang nantinya akan diadakan secara dalam jaringan (daring) diikuti lebih 3500 orang dari 450 titik studio di seluruh Indonesia.

“Nantinya Munas akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo secara daring dan luring, kami harap LDII kedepanya dapat berkontribusi untuk bangsa,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Kesbangpol Sulteng, Dr. Fahrudin, S.sos., M.Si. mengucapkan selamat atas terselenggaranya Munas LDII yang ke-9.

“Semoga kedepanya LDII bisa berguna bagi Nusa dan bangsa, saya berpesan kepada peserta Munas agar menjujung tinggi NKRI serta bijak dan jangan lupakan ideologi kita yaitu pancasila,” ujar Fahrudin.

Ia pun berharap agar LDII dapat menjaga ideologi negara, sebab Indonesia merupakan bangsa yang majemuk dan beragam.

“Setelah saya nilai, LDII adalah salah satu ormas yang berhak diberikan apresiasi sebab taat dan patuh kepada Pemerintah, terima kasih atas informasi yang LDII selalu berikan kepada kami,” tutupnya.

ZFR LINES

Jelang Munas IX LDII, Kapolri Silaturrahim ke LDII

Jakarta (9/3). Menjelang Munas IX LDII, Kapolri Jenderal Pol. Sigit Listyo Prabowo bersilaturrahim ke DPP LDII, menemui jajaran pengurus DPP LDII. Kunjungan  tersebut, merupakan bagian dari kunjungan berseri Sigit Listyo menemui ormas-ormas Islam usai dilantik, tujuanya untuk menciptakan sinergi dan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

“Polri memiliki pekerjaan besar, apalagi di tengah upaya penanggulangan wabah Pandemi Covid-19, pemulihan ekonomi nasional, dan menjaga situasi kamtibmas yang nyaman dan kondusif,” paparnya di Kantor DPP LDII, di Patal Senayan, Jakarta Selatan pada Selasa (9/3).

“Kami perlu kerja sama dan _alhamdulillah_, kami banyak berdiskusi dengan Ketua Umum DPP LDII dan pengurus LDII yang lain, sehingga program Kamtibmas dan beberapa program lain yang bisa kami sinergikan di lapangan akan kami terus kembangkan,” ujarnya.

Kapolri ingin kehadiran Polri bersama ormas-ormas dan tokoh-tokoh masyarakat, dapat mewujudkan sinergi dan situasi kamtibmas yang kondusif. “Kami kawal program Kamtibmas bersama-sama. Seluruh kegiatan yang sebenarnya untuk masyarakat dan bangsa agar bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Berkaitan dengan hal itu, Ketua Umum DPP LDII, Chriswanto Santoso memahami bahwa permasalahan bangsa bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah semata. LDII sebagai salah satu komponen bangsa juga punya bagian tanggung jawab menjadikan Indonesia aman dan sejahtera.

“Bagi kami sebagai lembaga dakwah, dakwah bisa berjalan kalau Indonesia juga aman dan pada kondisi stabilitas ekonomi dan keamanan terjamin. Apalagi pada kondisi pandemic Covid -19, banyak permasalahan yang harus diselesaikan bersama. Kita harus mengkonsolidasikan ide atau _taswiatul manhaj_ menjadi gerakan _tansiqul harokah_,” ujarnya.

Gerakan tansiqul harokah adalah gerak yang sama dalam istilah umat muslim. Dalam kunjungan ini, Chriswanto Santoso sangat bersyukur atas kunjungan Kapolri Sigit. Menurutnya, Kapolri telah berupaya melakukan _taswiatul manhaj_, yaitu upaya menyamakan pikiran, visi-misi, dan persepsi.

“Kebetulan selama ini sudah ada sinergi, maka setelah ini kami menerjemahkan ke dalam _tansiqul harokah_, dan langkahnya pun harus seiring. Ini kami harapkan akan menjadi percepatan pemulihan kondisi Indonesia ke depan agar menjadi lebih baik. Baik itu bidang kesehatan, ekonomi, maupun kondisi sosial,” ujarnya.

Dalam pertemuan ini, harapannya program-program LDII dengan Polri terkait urusan bangsa bisa semakin sinergi dan kompak, untuk menyukeskan program Generasi Emas Indonesia 2045.

Dalam pertemuan itu, Chriswanto Santoso berharap Kapolri bisa hadir dalam Munas IX LDII. Rencananya, Munas LDII akan dihelat di Ponpes Minhaajurrosyidiin, Jakarta pada 7-8 April 2021.

“Peserta daring yang hadir sebanyak 3.500 orang dari 300-an titik studio DPW dan DPD serta Ponpes LDII di seluruh Indonesia. Sementara peserta luring sebanyak 141 perwakilan DPW LDII,” ujar Chriswanto. LDII berharap Kapolri bisa hadir memberikan wawasan kebangsaan kepada peserta sebagai bentuk _tansiqul harokah_ dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

DPP LDII

Ketum DPP LDII: Jadilah Pengurus yang Mengayomi Umat

Jakarta (14/02) – Ketua DPP LDII Ir. Chriswanto Santoso melantik dan mengukuhkan kepengurusan DPW LDII DKI Jakarta masa bakti 2020 – 2025 pada Muswil DPW LDII DKI Jakarta ke- IX secara daring Jumat lalu (12/2). Kepengurusan baru ini diharapkan dapat berkontribusi nyata mewujudkan peran penting LDII dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Chriswanto dalam pembukaan menyatakan, gambaran kinerja organisasi tidak ditentukan oleh banyaknya pengurus, tetapi banyaknya orang yang bekerja untuk menghasilkan output lebih baik. Tantangannya adalah menyatukan pendapat 150 orang pengurus tanpa mengakomodir kepentingan tertentu, sehingga dapat bekerjasama secara kompak, sesuai hasil Muswil IX.

Ia juga menyitir hadis Nabi yang menyatakan jika orang yang diberikan amanah itu harus bertanggungjawab baik kepada manusia, kepada umat, dan kepada Allah SWT.

“Tantangan negara ini sekarang berat. Apa yang jadi bagian tugas negara, juga bagian dari tugas kita. Cobaan pandemi covid-19 dan musibah-musibah yang berdatangan adalah kehendak Allah. Ini yang perlu didasari dalam pola pikir kita,” ujar Chriswanto.

Ia menegaskan di hadapan para pengurus DPW yang dilantik, tidak pada masanya menyalahkan manusia lain sebagai akibat suatu musibah karena hal itu tidak menyelesaikan masalah. “Lebih baik kita memikirkan cara menanggulangi musibah itu bersama,” tegasnya.

Selain itu, krisis kesehatan yang dihadapi baik skala mikro dan makro, mengakibatkan krisis ekonomi dan sosial yang mengganggu stabilitas keamanan negara. Kerukunan, kekompakan, dan kerjasama yang baik antar pengurus LDII perlu diprioritaskan.

Chriswanto bersyukur, LDII di berbagai daerah telah mampu mewujudkan bantuan kepada warga-warga dan masyarakat yang terkena bencana. Ia berharap pengurus LDII mampu antisipasi dan berupaya bagaimana masyarakat mampu bertahan dengan cobaan. Itulah kontribusi LDII yang paling nyata yang bisa dibangun.

“Keberadaan 150 pengurus yang baru dilantik ini tidak ada gunanya jika tidak berbuat apa-apa dan tidak memberikan kontribusi. Jangan saling menyalahkan dan cari jalan keluar mengatasi masalah. Yakinlah ini jariyah yang besar untuk umat dan di hadapan Allah nanti.“

Lebih lanjut, Chriswanto berharap pengurus organisasi khususnya kepengurusan DPW LDII DKI Jakarta masa bakti 2020 – 2025 bisa menjalankan tugas sesuai proporsionalnya masing-masing. Selain itu, saling membantu agar organisasi tetap berjalan dan dapat mengupayakan manfaat kepada umat sesuai dalil “khoirunnas anfauhum linnas”.

Para pengurus harus membangun kekompakan, kerukunan, serta kerjasama yang baik sehingga lebih mudah meraih target pencapaian. Terutama menghadapi dinamika permasalahan masyarakat, informasi adalah sesuatu yang berpengaruh pada kehidupan masyarakat. “Kebanyakan orang tidak tahu jika itu hoax, tapi jika cocok dengan hatinya itulah yang dijadikan landasan,” ujar Chriswanto.

Informasi yang salah menjadikan tindakan yang salah, jika hal itu dibawa dalam kepengurusan LDII, maka mengakibatkan tindakan yang fatal. Chriswanto meminta pengurus organisasi agar sering berkonsolidasi dan berkomunikasi agar informasi yang didapat jelas dua arah, kesimpulannya akurat, dan menentukan arah organisasi selanjutnya.

Jakarta Miniatur Indonesia dalam menyambut Generasi emas 2045

Jakarta yang merupakan miniaturnya Indonesia memiliki keberagaman. Ketua DPW LDII DKI Jakarta Teddy Suratmadji menambahkan, dengan keberagaman itu butuh ormas Islam yang menerapkan moderasi beragama.

“Kami konsisten dengan prinsip-prinsip Islam washatiyah, untuk itu LDII selalu berinteraksi, berdialog, dan terbuka dengan semua pihak,” ujarnya. Moderasi beragama ini, bagi Teddy sangat penting, sebagai modal membangun Jakarta.

Sebagai menetapi perintah Qur’an, selalu koordinasi dengan ulama, dan komunikasi yang baik akan menjadi sesuatu yang luar biasa sebagai gerakan LDII.

Sementara itu Irvan Jusuf, perwakilan Dewan Penasehat DPW LDII DKI Jakarta memberikan sambutannya secara daring. Ia menyampaikan kepada para pengurus yang baru dilantik agar menyiapkan generasi penerus terbaik sebagai bonus demografi untuk tahun 2045.

Mendidik anak-anak sejak dini dengan pendidikan Islam rohmatan lil alamin, karakter yang baik, dan kemandirian, sehingga mencapai target keberhasilan sumber daya manusia untuk 2045.

Hari Pers, Ketua Umum LDII : Pers Merupakan Agen Perubahan dan Sejarah Perjuangan Bangsa

Jakarta (9/2). Pers nasional pada 9 Februari 2021 berulang tahun. Hari itu, 75 tahun lalu, para wartawan pejuang mendirikan organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Sepanjang sejarahnya pers merupakan agen perubahan, yang turut membantu memerdekakan dan mendirikan Indonesia.

“Semoga pers selalu istiqomah menjalankan fungsi memberi informasi, mengedukasi, memberi hiburan, dan alat kontrol demokrasi di tengah tantangan media sosial,” ujar Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso. Banyak jasa pers dalam sejarah perjuangan bangsa, sebagaimana jasa para pahlawan yang bertempur secara fisik untuk melahirkan Indonesia.

Chriswanto mengingatkan kembali, dalam dua dekade terakhir, media massa menghadapi tantangan serius dari media sosial. Tantangan itu berupa kecepatan informasi dan ekonomi, “Dunia cepat berubah, media sosial menyerap iklan dan informasi bergerak cepat, bahkan bisa ditayangkan langsung secara individu bukan lagi lembaga pers,” ujar Chriswanto.

Kerja pers yang selalu mengedepankan cek ricek dan liputan dua sisi (coverbothside), yang diolah dari reporter hingga redaktur, tergantikan dengan informasi langsung, sensasional, yang semua dikerjakan oleh satu orang, “Dan masyarakat hanya mementingkan sensasionalnya. Inilah yang pada akhirnya membuat gaduh. Secara pribadi, mereka yang tak memiliki self sencorship akan serta merta menyebarkan informasi. Ini yang gawat,” papar Chriswanto.

Akibatnya mudah ditebak, sebagian besar orang lebih meyakini kabar-kabar sensasional dibanding berita yang disuguhkan media sosial, “Apalagi para selebritas media sosial juga menggunakan potongan-potongan kutipan media massa untuk memperkuat opininya, ini yang membuat masyarakat yang tak paham informasi kian beralih ke media sosial,” papar Chriswanto.

Namun, ia juga memperhatikan media massa kini juga memanfaatkan media sosial, untuk mengejar ketertinggalannya. Mengenai pengelolaan informasi, Chriswanto mengingatkan, agar media merenungkan kepada siapa mereka bekerja? “Secara fisik media bekerja untuk perusahaannya, namun secara filosofi, pikiran, dan perjuangan, mereka bekerja untuk rakyat Indonesia,” papar Chriswanto.

Menurut pandangannya, dengan bekerja untuk rakyat, media massa bisa memberikan informasi yang bertanggung jawab, tak sekadar dapat dipertanggungjawabkan melalui mekanisme cek dan ricek serta peliputan dua sisi.

Seyogyanya, tutur Chriswanto, dengan mementingkan kepentingan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang jernih dan mendudukkan sesuatu pada tempatnya, maka lembaga pers telah bekerja dengan etika dan hati nurani, “Karena bisnis pers bukan soal keuntungan semata, tapi membuat kehidupan rakyat Indonesia semakin baik karena itulah tugas pers sebagai tiang keempat demokrasi,” ulas Chriswanto.

Walhasil, menurutnya, pers jangan terjebak pada sensasional dan memanfaatkan kekacauan atau kontroversial untuk kepentingan bisnisnya, “Pers jangan lagi berprinsip bad news is good news, media seperti ini bakal ditinggalkan oleh para pembaca atau pemirsanya,” ujarnya. Tapi suguhkan informasi yang mendidik dan menggugah daya kritis masyarakat.

Ia berpendapat, pers harus turut dalam proses mencerdaskan kehidupan bangsa dalam Pembukaan UUD 1945. Chriswanto menyambut baik Hari Pers Nasional bertema “Bangkit dari Pandemi, Jakarta Gerbang Pemulihan Ekonomi, Pers sebagai Akselerator Perubahan.”

Menurutnya, tema itu disertai dengan segala pemberitaannya, akan membangkitkan semangat bangsa Indonesia dalam menghadapi krisis, sekaligus membangkitkan ekonomi nasional, pungkasnya, “Selamat Hari Pers Nasional, semoga selalu menciptakan Indonesia yang lebih baik,” tutupnya.

Ketua LDII : ”Saat ini, Media Sosial Tidak Mencerminkan Karakter Bangsa”

Jakarta (4/2). Perkembangan media sosial saat ini memang sudah semakin pesat mengingat saat ini peran teknologi sudah tidak dapat dilepaskan dari setiap kehidupan manusia. Namun saling serang para tokoh di media sosial mengundang keprihatinan LDII.

“Media sosial kini menjurus pada perilaku nirakhlak yang dipertontonkan ke publik. Meskipun bangsa ini direkatkan oleh Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika, namun komentar yang menyerang SARA sangat disayangkan,” ujar Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso.

Menurut Chriswanto, wajah media sosial akhir-akhir ini tak mencerminkan karakter bangsa Indonesia yang menghargai perbedaan, toleran, tenggang rasa, dan tepo seliro serta gotong-royong. Seharusnya, lanjut Chriswanto, semua pihak terutama para politisi dan para buzzer yang berafiliasi dengan kepentingan tertentu, menyadari kebangsaan Indonesia tak bersifat natural atau alamiah.

“Nasionalisme kita bukan seperti nasionalisme Jerman ataupun bangsa-bangsa Skandinavia yang disatukan oleh kesamaan bahasa dan suku. Indonesia menyatu karena perasaan senasib sebagai bangsa yang dijajah, ditindas, dan dihina,” kata Chriswanto. Suku-suku bangsa di Nusantara yang kini membangun Indonesia, memiliki perbedaan yang bila diusik rentan menciptakan disintegrasi.

Chriswanto menukil pesan Bung Karno, bahwa bangsa Indonesia membutuhkan nation building, sebuah proses panjang yang harus dipelihara, dirawat, dirangsang, dibimbing, dan diemong, “Namun, dalam 10 tahun terakhir, kepribadian bangsa Indonesia mendapat ancaman dari media sosial. Penggunaan media sosial yang tak bijak, makin menghilangkan karakter bangsa yang berjiwa gotong royong itu,”katanya.

Dalam kasus buzzer, menurut Chriswanto, mereka memainkan berbagai isu agar daya nalar kritis masyarakat menjadi tumpul. Sementara mereka yang bergerak atas nama ideologi, terus-menerus membombardir ruang publik dalam media sosial dengan kebenaran yang tunggal. Tak ada ruang bagi ideologi yang lain.

Jadi, tak mengherankan ujaran kebencian bahkan yang menyerang SARA menjadi pemandangan yang rutin dalam media sosial. Sementara, mereka yang kritis-konstruktif, aspiratif, dan mengedukasi mulai terpinggir. Semua itu, atas nama kemerdekaan berpendapat dan bersuara yang melalaikan hak asasi publik untuk mendapatkan sesuatu yang positif dalam media sosial. Inilah yang menjadi tantangan disintegrasi bangsa, yang harus diwaspadai seluruh rakyat Indonesia.

Sementara itu, praktisi telematika Lukman A. Fatah mengatakan, agar masyarakat tak mudah membagikan atau sharing, hal-hal yang merusak kerukunan, persatuan, dan kesatuan bangsa, “Dalam media sosial cek ricek sangat lemah, apalagi dengan mayoritas penduduk Indonesia adalah umat Islam, dalam Al Quran diajarkan supaya berita itu di-tabayun atau dicek lagi kebenarannya,” papar Lukman yang juga Ketua DPP LDII.

Ia mengatakan, bila cek dan ricek telah dilakukan, hal lain adalah memikirkan kembali, manfaat dari penyebaran informasi tersebut, “Manfaat dan mudarat sebelum sharing informasi harus dilakukan meskipun mengetahui informasi tersebut adalah benar,” ujar Lukman.

Menurutnya, sikap ingin menjadi orang pertama yang tahu atau ingin jadi yang awal menyebarkan informasi, dengan tanpa mempertimbangkan baik-buruknya jika informasi itu tersebar bukanlah sifat yang terpuji. Hal itu, bisa memicu disintegrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, menanggapi pendengung atau buzzer sebaiknya diabaikan, “Pendengung yang dengungannya diabaikan, nanti diam sendiri,” timpalnya.

Menurut Chriswanto, disintegrasi bangsa Indonesia pada masa lalu dipicu oleh ketidakpuasan dan perasaan terpinggirkan. Sehingga pada awal kemerdekaan Indonesia, terjadi pemberontakan di beberapa wilayah, “Kini ancaman disintegrasi dipicu oleh serangan terhadap hal yang paling sensitif yakni SARA, yang memicu pula rasa terpinggirkan dan ketidakadilan,” tutupnya. [*/]