Kayla pemudi asal Palu (dua dari kiri) founder rumah karya bagi penyandang disabilitas
Kayla pemudi asal Palu (dua dari kiri) founder rumah karya bagi penyandang disabilitas

Pemudi LDII Palu Hadirkan Rumah Karya Bagi Penyandang Disabilitas

PALU — Seorang perempuan muda LDII asal Palu, Sulawesi Tengah, Zarqa Kailila Ermera atau disapa Kayla, menghadirkan ruang berkarya bagi penyandang disabilitas melalui Rumah Karya. Beragam produk kreatif, salah satunya vest atau rompi berbahan kain perca batik bomba, diproduksi oleh para penyandang disabilitas dan diperkenalkan kepada masyarakat melalui stan di Taman Vatulemo, kota Palu, Selasa (29/9/2026).

Kayla, pendiri Rumah Karya, mengatakan bahwa berdirinya Rumah Karya berawal dari keprihatinannya terhadap stigma masyarakat terhadap penyandang disabilitas.

“Kenapa Rumah Karya ini bisa berdiri? Karena pertama, saya melakukan survei dan melihat bahwa stigma masyarakat sendiri biasanya menganggap penyandang disabilitas masih memiliki kekurangan dan tidak memiliki kelebihan. Pandangan seperti itu masih lebih dominan,” ujar Kayla.

Kayla saat diwawancarai oleh Tim Lines Palu
Kayla saat diwawancarai oleh Tim Lines Palu

Dari kondisi tersebut, Ia bersama temannya kemudian menghadirkan Rumah Karya sebagai wadah yang dapat memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi dan kreativitas mereka melalui berbagai produk yang dihasilkan.

Menurutnya, nama dan filosofi Rumah Karya memiliki makna tersendiri. Rumah Karya diharapkan menjadi tempat yang aman dan damai bagi penyandang disabilitas, sekaligus menjadi ruang untuk menciptakan berbagai karya.

“Filosofi dari Rumah Karya itu adalah sesuatu tempat yang aman, damai, dan bisa menciptakan sebuah karya bagi anak disabilitas,” jelasnya.

 

Ia mengatakan, produk yang dihasilkan Rumah Karya memiliki perbedaan dengan produk sejenis lainnya. Jika pada umumnya produk dibuat menggunakan kain yang masih utuh, Rumah Karya justru memanfaatkan kain perca batik untuk mengurangi limbah dari penjahit.

“Perbedaan produknya yaitu kalau produk lainnya biasanya masih menggunakan kain-kain yang utuh. Nah, kalau Rumah Karya sendiri, kami mengurangi limbah dari penjahit. Jadi, kami menggunakan kain perca batik Bomba dan kain tersebut dijahit oleh anak-anak disabilitas,” ujarnya.

Menurutnya, pemanfaatan kain perca tidak hanya menjadi upaya untuk mengurangi limbah, tetapi juga memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk terlibat secara langsung dalam proses produksi dan menghasilkan karya yang bernilai.

 

Ke depan, Ia berharap Rumah Karya dapat terus berkembang dengan menghadirkan berbagai produk kreatif lainnya. Dalam satu hingga dua tahun mendatang, dirinya berencana mengembangkan produk seperti scrunchie, pouch, dan berbagai produk lainnya.

“Dalam satu atau dua tahun ke depan, kita ingin mengembangkan produk lagi. Mungkin ada scrunchie, pouch, dan lain-lain. Kita juga ingin bisa memberikan ruang yang aman bagi anak-anak disabilitas supaya mereka lebih percaya diri lagi untuk mengembangkan karya-karyanya,” tuturnya.

Baginya, setiap karya yang dihasilkan bukan sekadar produk, melainkan bagian dari proses membangun kepercayaan diri dan kemandirian penyandang disabilitas. Melalui Rumah Karya, ia berharap semakin banyak masyarakat melihat kemampuan mereka bukan dari keterbatasannya, tetapi dari karya dan potensi yang mampu mereka hasilkan.***

Penulis: Lines Palu
Editor: Lines Palu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.