Musi Banyuasin (24/7). Dalam suasana hangat dan penuh kekhusyukan, LDII Balai Agung menggelar pengajian sarimbit atau pengajian suami istri. Turut mengundang penceramah utama, Daud Sobri.
Dalam nasihat pembukanya, Daud mengangkat tema penting mengenai fondasi rumah tangga sakinah. Ia menekankan tiga sikap utama yang menjadi dasar hubungan harmonis dalam keluarga, yakni mendengarkan, memahami, dan memaafkan. Tiga hal ini, menurutnya, bukan sekadar teori psikologis, tetapi nilai luhur yang telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah dalam kehidupannya bersama para istrinya.
“Kalau kita ingin rumah tangga yang diberkahi, lihatlah bagaimana Rasulullah memperlakukan keluarganya,” ujar Daud.
Daud menjelaskan bahwa Rasulullah adalah seorang pendengar yang luar biasa. Ketika Sayyidah Aisyah bercerita panjang lebar, Rasulullah tidak memotong pembicaraan, melainkan menyimak dengan penuh perhatian.
“Mendengarkan itu bukan sekadar mendengar dengan telinga, tapi menyimak dengan hati. Banyak masalah rumah tangga bermula karena tidak ada yang benar-benar mau mendengar,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar para suami tidak sibuk dengan gawai saat istri sedang berbicara, dan sebaliknya.
Lebih lanjut, Daud menjelaskan pentingnya saling memahami dalam rumah tangga. Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang lembut dan penuh empati, memahami kondisi psikologis serta emosional para istri, termasuk saat mereka sedang marah atau cemburu.
“Memahami bukan berarti selalu sepakat, tapi berusaha mengerti alasan dan perasaan pasangan. Inilah yang Rasulullah ajarkan dalam akhlaknya,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa rumah tangga bukan tempat untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan ruang untuk saling menguatkan dalam kebaikan.
Fondasi terakhir adalah memaafkan. Menurut Daud, Rasulullah adalah sosok pemaaf, bahkan dalam kehidupan rumah tangganya. Beliau tidak pernah membalas kesalahan istri dengan kemarahan, melainkan dengan kesabaran dan kasih sayang.
“Memaafkan adalah kekuatan batin. Jika Rasulullah yang maksum (terpelihara dari dosa dan kesalahan) saja bisa memaafkan, apalagi kita yang penuh kekurangan,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa memaafkan bukan berarti membiarkan kesalahan terus terjadi, melainkan memilih untuk menjaga hati agar tidak dipenuhi dendam.
Daud mengajak seluruh warga untuk menjadikan akhlak Rasulullah sebagai pedoman utama dalam menjalani kehidupan rumah tangga, tidak hanya dalam aspek ibadah, tetapi juga dalam relasi suami istri. “Rumah tangga yang meniru sunnah Rasulullah, insya Allah akan dilimpahi ketenangan dan keberkahan,” tutupnya.
Pengajian sarimbit ini disambut antusias oleh para peserta. Suasana yang akrab dan hangat mewarnai keseluruhan kegiatan, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, tausiyah lanjutan, dan doa bersama agar rumah tangga para warga diberikan kekuatan iman dan abadi hingga akhir hayat.
Oleh: Daud SOBRI (contributor) / Riska Sabilah (editor)
Kunjungi berbagai website LDII
DPP, DPP, Bangkalan, Tanaroja, Gunung Kidul, Kotabaru, Bali, DIY, Jakpus, Jaksel, Jateng, Kudus, Semarang, Aceh, Babel, Balikpapan, Bandung, Banten, Banyuwangi, Batam, Batam, Bekasi, Bengkulu, Bontang, Cianjur, Clincing, Depok, Garut, Jabar, Jakarta, Jakbar, Jakut, Jambi, Jatim, Jayapura, Jember, Jepara, BEkasi, Blitar, Bogor, Cirebon, Kalbar, Kalsel, Kaltara, Kalteng, Karawang, Kediri, Kendari, Kepri, ogor, Bogor, Kutim, Lamongan, Lampung, Lamtim, Kaltim, Madiun, Magelang, Majaelngka, Maluku, Malut, Nabire, NTB, NTT, Pamekasan, Papua, Pabar, Pateng, Pemalang, Purbalingga, Purwokerto, Riau, Sampang, Sampit, Sidoarjo, Sukoharjo, Sulbar, Sulsel, Sultra, Sumbar, Sumsel, Sumut, Tanaban, Tangsel, Tanjung Jabung Barat, Tegal, Tulung Agung, Wonogiri, Minhaj, Nuansa, Sako SPN, Sleman, Tulang Bawang, Wali Barokah, Zoyazaneta, Sulteng